Minggu, 20 Desember 2015

Random

Apa yang gue pikirin saat ini bener bener ketakutan yang nyata. Gue bingung,gue takut akan banyak hal tentang cinta. Bahkan gue takut sama hubungan yang lagi gue jalanin ini untuk kedepannya. Ya memang,gue tau semua ini bakalan jadi penghambat,tapi apa yang gue rasain sekarang ini random banget. Rasa sedih,takut,bahagia semua nyatu.

Sebenernya sih pikiran gue memang sedikit berlebihan,tapi semua ini karena curhatan temen-temen gue tentang hubungan mereka. Dan seketika gue juga inget sama pengalaman hubungan gue dimasalalu yang cukup jijik buat gue beberkan lagi. Kenapa gue bilang jijik? Karena mereka yang dulunya berjanji buat tetep disini akhirnya pergi juga, meninggalkan sejuta luka dan ngebawa kesalahannya sendiri tanpa tau diri. Dan sejujurnya gue udah gak mau inget lagi sama kisah yang dulu,tapi kali ini semuanya nyangkut diotak gue dan akhirnya malah jadi rasa takut yang luar biasa.

Mereka yang dulunya pernah sayang sama gue,ngejaga gue,tapi akhirnya mereka pergi semaunya tanpa mikir gimana kondisi gue nantinya. Gue yang daridulu coba setia,gue yang dari dulu coba keep stay sama satu cowok,tapi apa yang gue lakuin gak pernah dibales dengan keseimbangan. Mereka ngebales dengan api,sedangkan gue disini selalu jadi air yang berusaha buat memadamkan. Sekejam ini kah cinta? Apa ini deskripsi cinta sebenarnya?

Banyak pengalaman disekeliling gue,bahkan dihidup gue sendiri. Hubungan yang beranjak udah 1 atau 2 tahun bisa runtuh gitu aja dengan alasan bosen/jenuh,yang menyebabkan orang ketiga itu gampang masuk. Sebenernya rasa bosen/jenuh bukan berarti kita harus mengakhiri hubungan yang udah dibangun selama bertahun-tahun itu kan?atau malah selingkuh buat cari suasana baru. Itu nyakitin banget.
Dan semua itu hal yang bego banget yang lagi gue pikirin sekarang.

Semakin berjalan hubungan gue yang sekarang,badai semakin deras. Gue takut,semakin bertambahnya usia hubungan ini,peluang perpisahan malah semakin besar. Gue takut banget,dan kali ini gue udah percaya dan yakin sama satu sosok yang gak akan pergi buat ninggalin luka lagi. Gue gak mau kehilangan sosoknya sampai kapanpun.
Gue gak tau gimana nanti kedepannya,gimana nanti saat hubungan ini mulai beranjak setahun dua tahun. Apakah kisahnya bakalan sama dengan kisah sebelumnya? Gue takut tiba-tiba rasa bosen/jenuh hadir diantara kita.

Dengan kegelisahan ini,dengan pikiran yang berantakan ini,cuma satu yang gue maksud. Gue sayang sama pasangan gue yang sekarang,gue sayang sama hubungan ini,gue takut suatu saat nanti dia yang janjinya sama dengan mereka yang katanya bakalan tetap disini tapi pergi juga ninggalin luka. Gue gak mau,gue bener gak mau kisah ini sama dengan kisah gue dimasalalu. Semoga kita bisa ngelawan rasa bosen/jenuh itu dengan cara yang terbaik.

Percayalah,cinta sejati akan tetap disini. Jika ia pergi,ia akan tau kemana ia harus pulang.

Rabu, 16 Desember 2015

hujan

Matahari telah terbit. Cepat sekali waktu menunjukan bahwa sudah pagi. Namun tidurku kali ini belum puas,masih ada yang tersisa butiran air hujan bekas semalam di sudut mata.
Segala kejadian yang semalam masih membekas,dan masih pekat pada ingatan. Ingin ku kembali pada tidurku,karena ketika aku tertidur segala luka menjadi hilang terbawa mimpi.

Saat aku melihat luar dari kaca jendela,ternyata cuaca tak secerah yang ku harapkan. Aku bergegas keluar. Tanpa memandang cuaca,aku siap untuk melangkah yang ditemani oleh rintikan-rintikan hujan. Tak ada pelindung,tak ada penampung,tak ada tempat bernaung. Aku beranjak hanya memakai jacket yang hangatnya tak seberapa dibanding kehangatan pelukanmu. Langkah demi laangkah ku lampaui,dengan keadaan yang begitu menggil,berharap rintikan-rintikan ini tak berubah menjadi deras.

Dipertengahan perjalanan dan disela sela rintikan hujan,ingatanku kembali tentangmu. Begitu perih bila diusik kembali dan mungkin akan terlihat busuk bila dikupas terlalu dalam. Aku hanya bisa berdoa pada-Nya meminta yang terbaik. Sejujurnya aku lelah lagi lagi harus menanam luka. Jika kau bertanya,luka ini berasal darimana? Aku tak kan pernah tau jawabannya,karena hubunga ini begitu membingungkan. Tingkah kau yang layaknya raja selalu membuatku merasa seperti budak yang tiada arti. Ingin sekali aku keluar dari permainan yang terlalu konyol ini,tapi disisi lain hati berkata "ini hanya rintangan,bukan kah setiap permainan selalu ada rintangan? Dan yang bisa melewatinya,akan menjadi pemenang". Aku ingin sekali kita menang melawan segala macam rintangan,aku ingin kita jadi juara dan membuktikan bahwa kita mampu. Tapi lagilagi aku terjatuh,untuk mencapai kemenangan.

Tanpa disadari rintikan hujan tadi ditemani oleh rintikan hujan dimata ini. Tapi setidaknya ribuan orang yang berlalu lalang tak tau bahwa ada 2hujan disini. Mereka hanya tau hujan rintik diluar,karena hujan dimataku telah tersamarkan. Ingin  sekali rasanya aku berteriak disela hujan ini dan meluapkan seluruh amarahku.

Ketika aku sampai pada tujuan,aku menghentikan langkahku. Berharap kau menyapaku meelalui pesan singkatmu seperti biasanya,menanyakan bagaimanana keadaanku. Tapi kali ini tidak,ketika ku sampai aku hanya termenung seperti orang bisu. Berharap kau akan menenangkanku,tapi harapanku tersingkirkan oleh ribuan rintikan hujan diluar sana.

Harus kemana aku berlari kali ini? Harus kemana aku mencari tempat peneduh? Harus kemana aku mencari kehangatan? Sedangkan sedari tadi aku masih terdiam membisu yang ditemani dingin bekas hujan tadi. Hujan diluar saat ini sudah berhenti,tetapi hujan dimata ini susah sekali untuk dihentikan. Entah siapa yang akan menghentikan hujan dimata ini,apa kah kau masih bersedia? Atau kau telah merelakanku menghentikann hujan dimata ini sendiri seperti sebatang kayu tanpa akar.

Selasa, 15 Desember 2015

aku tak ada arti (lagi)

Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 01.00 malam. Seharusnya didetik sekarang aku sudah tertidur pulas yang ditemani oleh mimpi. Tapi kenyataan malam ini tak sama seperti malam sebelumnya. Malam ini tak seindah malam yang lalu. Dan diwaktu yang sekarang ini aku hanya ditemani tetesan ribu air mata yang tiada arti.

Gelombang-gelombang yang selalu membawa kita tenggelam,tadi datang lagi. Ia mencoba memusnahkan kita. Entah sekarang ini kita sudah berada diarusnya atau belum,akupun masih bingung. Yang jelas,aku disini masih ingin bertahan hidup melawan arus itu bersamamu.

Jam 11malam tadi kau datang kerumahku dengan membawa segala amarahmu dan kekecewaanmu. Kukira kamu mendatangi rumahku malam malam ingin membangkitkan ku,tapi kau malah ingin menjatuhkanku lebih dalam. Dengan kondisi tubuhku yang sedang tidak fit,kau datang malah lebih menyakiti.

Celotehanmu yang seperti duri itu menusukku lagi. Tapi aku tak tau,itu akan membekas menjadi luka atau justru menjadi sesal karena telah membuat luka. Air berkali kali diusahakan untuk dibendung tapi tak terbendung juga. Semakin tajam celotehanmu,air mata ini malah semakin gak karuan. Bibir yang membungkam seakan tak sanggup mengeluarkan satu kata,tetapi hati selalu bicara. Sebodoh ini kah aku? Selemah ini kah aku? Yang selau menjelaskan kata demi kata dalam hati sehingga sulit untuk dimengerti.

Air mata selalu saja mengalir,makin deras dan semakin deras. Tapi bagimu seakan air mata ini adalah tipuan belaka yang sengaja kukeluarkan demi mencari perhatianmu. Air mata ini sudah tidak ada arti dimatamu,padahal disetiap butirannya selalu ada tentangmu. Tapi tetap beribu kali mencoba tak menangis dihadapanmu malah beribu kali juga cairan itu mudah mengalir,karena kamu adalah kelemahanku.

Detik demi detik berlalu. Dan aku belum terlelap juga. Kau yang tadi begitu nekat pulang kerumah tanpa kendaraan dengan jarak sangat jauh dari rumahku. Berkali kali aku mencegahmu tapi kau begitu keras kepala. Saat kau melangkah perlahan dari pintu rumahku,rasa sesal,perih,sakit,khawatir,kecewa semua menjadi rata. Hingga aku benci pada diriku yang telah membiarkanmu meawan rasa kesal yang menyatu dalam kedinginan. Kulihat dari pintu lama kelamaan kau mengihilang meninggakan jejak. Lalu aku bergegas mengambil jacket dan kunci motor untuk menyusulmu membawamu kembali. Tapi lagi lagi kau menghiraukan usahaku. Coba bayangkan,tengah malam gadis sepertiku berkeliaran sendirian untu mengejar lelaki yang amat dicintainya. Jika sudah tak cinta,untuk apa gadis ini rela dirinya terdayung oleh angin malam,padahal kondisinya sedang tak memungkinkan. Ia hanya untuk mengejarmu,mengajak kau kembali. Tapi tetap saja semua tak ada arti. Kau malah menyuruhku kembali tanpa hasil. Kau tega membiarkanku kembali sendiri dipertengahan malam tanpa pelindung. Kemudian tangis,sesal,kecewa dan khawatir tersamarkan dengan biasan angin yang begitu kencang. Hingga angin itu membawa ku pulang dengan tubuh yang tergoyah karena tak ada lagi penegaknya.

Hingg sekarang sudah pukul 1.45 malam,dan aku tak tau kau ada dimana. Apakah kau sudah sampai istana mu? Aku akan menunggu jawabmu.

Kamis, 10 Desember 2015

Jangan pergi

Di luar hujan deras, kemana kau akan pergi?” Begitu pertanyaaan yang aku lontarkan bersamaan dengan langkahmu menuju pintu. Di depan pintu aku berhasil meraih tanganmu. Kau sedikit berontak sebelum akhirnya terdiam, membiarkanku menahanmu.
“Tinggallah disini dulu, jika tak bisa selamanya setidaknya sampai hujan reda” Begitu pintaku yang kau sambut dengan palingan wajahmu.
“Aku mengkhawatirkanmu Tuan, hujan begitu deras di luar sana, walau kau bisa bertahan dari dinginnya, dari terpaan angin yang kencang itu? Tapi aku tak bisa pungkiri untuk tetap mengkhawatirkanmu”.

Hujan menjadi lebih deras, membuat nada gaduh yang mengharuskanku sedikit berteriak.
“Dlarr!!” Tiba-tiba petir menyambar, kau berteriak kaget lalu berangsur menuju pelukanku. Kau tahu, petir barusan adalah suruhanku, agar kau mau tinggal disini, menemaniku.
Aku memelukmu erat, mencoba membawamu kembali masuk lewat pintu kau keluar tadi. Namun kau menolak, melepaskan diri dari pelukanku. “Mengapa? Kau sudah tak suka dengan semua milikku? Coba cepat katakan, apa yang paling kau suka selama ini disini, kopi panas? Teh? Biskuit? Atau apapun, coba katakan, duduklah yang nyaman di dalam, aku akan menyiapkannya untukmu. Ku mohon, tetaplah tinggal disini. Semua terasa kosong tanpa kau disini”

Kau masih diam sejuta bahasa, menatapku dengan tatapan marah yang menakutkan.
Aku takut, terdiam dan melepas tanganmu. “Baiklah, mungkin semua kefakiranku ini tak cocok untuk dirimu yang mendamba kesempurnaan” Aku masuk ke dalam, mengambil sebuah payung lalu ku berikan padamu. “Ini ambillah, aku tak bisa memaksamu berada disini, mungkin keadaan disini menjemukanmu, terimakasih sudah bersedia mampir di tempat kumuhku ini, jika suatu hari kau butuh naungan lagi, aku siap menyambutmu kapanpun” Kau menerima payungku, membukanya, bersiap untuk menerobos hujan. Aku hanya mampu melihatmu, berjalan menjauhiku. Aku harus bertarung dengan rasa khawatir, sesal dan sedih yang menghantam hatiku.

“Dlarr!!” Petir kembali menggelegar, menahan langkahmu. Kau kembali masuk, menutup payungmu dan duduk dengan penuh kekesalan diatas sofaku. “Kopi” begitu pintamu tanpa mempedulikanku sedikitpun. Aku ke belakang, membuatkanmu kopi kesukaanmu. Siapa bilang petir selalu membawa sial? Lihatlah, dua kali aku bisa menahanmu karena petir itu datang, begitu batinku.

Setelah kopi seduhanku selesai, aku hidangkan di hadapanmu. Kau menyesapnya perlahan, aku yakin kau menikmatinya seperti biasa.
“Mungkin aku akan tinggal disini sampai hujan reda, seperti pintamu” kau mulai membuka pembicaraan. Aku bahagia bukan kepalang, aku ambil kudapan di kulkas dan ku taruh diatas meja. Aku bingung kata apa yang akan kuucap, akhirnya aku hanya membiarkan hujan memenuhi obrolan ku dengan harapan ia tak akan pernah reda.
“Ingat, jangan berharap lebih.. aku hanya disini sampai hujan reda” kau menegaskan lagi. Aku tersenyum.
“Iyya, silahkan..”

Beberapa saat kemudian, kita terlibat obrolan seru seputar kebahagiaan kita di masa sebelumnya. Hingga tak terasa hujan sudah reda. Aku ingin mengingatkanmu, namun kuurungkan. Aku ingin kau lebih lama lagi disini.
“Ah sudah reda” tiba-tiba kau sadar akan hujan yang sudah reda.
“Habiskan dulu kopimu” cegahku, menahanmu.
“Baiklah..” akhirnya kita terlibat obrolan lagi. Hingga gerimis tiba-tiba turun. Kau sadar dan bergegas keluar.
“Ah, kau.. menahanku terlalu lama sampai hujan turun lagi!” Kali ini kau kesal dan marah padaku. Aku selalu takut jika menghadapi situasi seperti ini. Aku ambilkan payung yang kau tinggal di dalam, lalu kuberikan lagi padamu.
“Silahkan pergi, mumpung hujannya belum terlalu deras” Kau mengambil payung itu dariku, begitu kasar seakan merebutnya. Kau membukanya dan pergi meninggalkan aku yang mulai meneteskan hujan di mataku sendiri.

Di seberang jalan, tiba-tiba ada seseorang berbaju biru. Sepertinya seorang disebrang sana sedang menunggumu. Kau berjalan menuju kearah dia,wanita yang sangat asing dimataku sambil kau membuang payung pemberianku.
“Dlarr!!” Senyum perempuan asing itu yang seakan memamerkan kesempurnaanya sambil beriringan dengan petir yang tepat menyambar rumahku hingga rubuh dan terbakar.

Aku hanya berdiri diatas puing-puing rumahku, menatapmu dengan tatapan nanar penuh sesal, sedih, cemburu, dan pilu. Aku bingung, jika suatu saat kau kembali untuk berteduh lagi, apa yang bisa kutawarkan? Rumah yang penuh ketulusan dan kesetiaanku, yang kubangun dan kudesain senyaman mungkin untukmu telah rubuh. Aku terdiam mematung, membiarkan tangisku hanyut bersama rintik hujan yang mulai deras.

Kau tahu, rumah ini adalah hatiku.





Terinspirasi dari: topengekspresi


Rabu, 09 Desember 2015

wanita biasa yang mencintai dengan sederhana

Aku tidaklah seperti mereka yang bisa merangkai kata dengan indahnya. Membuatkanmu puisi dengan kata kata yang istimewa. Lalu,membacanya dengan suara yang merdu sehingga memanjakan telinga.Aku hanyalah wanita biasa yang bisa mencintaimu dengan sederhana.

Aku tidaklah seperti mereka yang bisa berjanji mencintaimu selamanya,berkata akan selalu ada disaat kau butuh,lalu menyombongkan itu semua pada dunia. Sekali lagi;aku hanyalah wanita biasa yang bisa mencintaimu dengan sederhana.

Aku tidaklah seperti mereka,aku hanya mampu mencintaimu begini saja. Aku tidak bisa menjanjikan apa apa,tidak bisa memberikanmu hal hal yang istimewa. Tapi ketahuilah,aku selalu berusaha agar ku mampu melakukan itu semua.

Sebenarnya apa yang sedang kau baca ini,hanyalah rasa didada yang tertuang lewat kata kata sederhana yang disusun sedemikian rupa,dan kumpulan kalimat yang bisa dirangkai apa adanya. Apa yang sedang kau hayati ini,hanyalah coretan yang bukan apa apa dari orang yang bukan siapa siapa.

Aku hanyalah wanita biasa yang hanya bisa mencintaimu dengan sederhana,tak bisa didefinisikan dengan kata,tanda baca,apalagi angka,bukan sebagai apa,siapa,atau apapun itu namanya.

Ya,aku hanyalah wanita biasa. Jadi,izinkan aku untuk mencintaimu dengan sederhana :)

Minggu, 06 Desember 2015

kegalapan

Kegelapan yang ditemani rintikan hujan sedari sore tadi membuat suasana terlihat kurang lengkap. Seketika berdiam diri melihat kesegala arah yang berwarna hitam pekat dengan tubuh yang setengah mengigil. Sepertinya ku butuh penerangan dan kehangatan malam ini.

Banyak bayangan yang tiba tiba menghampiri didalam kegelapan ini. Yang lagilagi membuatku takut. Ingin sekali rasanya ku menjerit meluapkan segala yang kutakuti,karena malam ini jeritanku akan tersamarkan oleh suara hujan diluar sana.
Entah mengapa akhir akhir ini aku menjadi wanita pengecut yang selalu takut akan segala hal. Apa mungkin banyak rasa trauma yang pernah kualami? Kurasa kata kata itu terlalu berlebihan-.

5jam sudah aku berada dalam kegelapan ini sendirian. Hujan sudah berhenti,tapi kegelapan masih setia menemani. Seperti kamu yang masih menemaniku dalam kurun waktu 5 bulan ini. Bedanya,bersamamu warna tidak lagi hitam. Banyak sekali kecerahan saat ku coba melangkah bersamamu. Tapi rasa takut itu pun juga masih setia menemaniku. Entah kenapa lagi lagi aku menjadi wanita yang amat pengecut,bukan lagi menjadi wanita berani seperti dulu kala. Dulu,aku selalu berani dalam situasi apapun,aku berani dengan resiko apapun. Semenjak bersamamu,rasa takut itu mulai menggilai. Aku takut kau melepaskan pelukanmu,takut kau melepaskan gandengamu,takut kau menghentikan langkahmu bersamaku,takut kau membiarkan ku sendiri tanpa sosokmu,aku sangat takut untuk kehilanganmu. Tapi yang lebih ku takuti,aku takut untuk menimbun luka lagi. Lelah rasanya,harus berpapasan lagi dengan luka dan air mata.

Banyak luka yang ditimbun disini dari mereka orang yang tak bertanggung jawab. Hingga ku benci akan hal tentang cinta. Sekian lama aku berdiri sendiri berusaha menyembuhkan lukaku yang dulu. Nyatanya berdiri sendiri tanpa seseorang,luka ini tidak akan sembuh.
Tapi rencana Tuhan indah sekali. 5bulan yang lalu,Ia mengirimkan sosok pria gagah dan sangat gentle yang ditunjukkan untuk menyembuhkan luka ini. Dan kali ini aku menemui arti cinta yan baru. Aku merasakan cinta yang berbeda. Apa ini rasa yang katanya menemui cinta sejati? Entahlah,semoga saja. Perjalanan kita pun masih panjang dan kaupun akan ku jadikan pemberhentian terakhir.

Tapi kali ini kumohon,jangan lagi lagi kau menimbun luka baru. Jangan lagilagi kau memanggil rintikan hujan dimata ini. Ketika kepecayaan sudah ku beri sepenuhnya padamu,tolong jaga kepercayaan itu. Meskipun sudah banyak sekali liku-liku yang kita lewati,kuharap kita mampu melewatinya. Disaat aku mulai merasa lelah dengan likuliku itu,kumohon tarik aku ajak aku melewatinya lagi bersamamu. Kalaupun nantinya kita sudah sama sama tak sanggup,aku percaya dan aku yakin kekuatan cinta yang besar akanmelawan semua gegelombang. Cinta tau kemana ia harus pulang.

Jumat, 04 Desember 2015

mencintai,sekecil ujung kuku

Sudah banyak sekali bait kata yang terlontarkan disini. Yang kenyataanya dari setiap kata selalu tertuju padamu. Kamu selalu menjadi peran utama ,dan aku hanya mendapatkan peran figuran yang terkadang tak selalu dipandang.
Mereka hanya tau aku yang selalu memancing masalah. Tapi apa mereka tau umpannya berasal darimana? Mereka hanya bisa membaca isi judul satu persatu dan Mereka hanya memahami kalimat demi kalimat,tanpa mereka mengetahui real nya seperti apa.

Entah itu kata kata apalagi yang kubuat. Sebenarnya aku malu jika harus bertutur kata tentang kesedihan,lagilagi kegalauan. Seakan bersamamu tak ada kebahagiaan yang terbuat. Padahal,aku bahagia memilikimu. Hanyasaja banyak sekali arus deras yang taktau datangnya darimana yang selalu mencoba merenggut kebahagiaan itu.
Tapi faktanya,bertutur kata tentang kebahagiaan tak semudah bertutur kata tentang kesedihan. Banyak ribuan bahagia yang tak terungkap disini.

Malam ini masih seperti biasanya. Mendengarkan music melalui headset dan seketika banyak kata-kata terlintas yang harus kulontarkan disini,agar tidak bergejolak didalam dada.
Mungkin seharian ini kamu masih bertanya tanya mengapa aku seperti ini. Mengapa aku menjadi wanita kaku  seperti baru mengenalmu. Menjadi wanita pendiam tidak seperti biasanya. Aku juga heran mengapa aku seperti ini. Tenang,aku tidak bermain api disini. Aku hanya mengikuti alur isi hatiku saja.

Semenjak kejadian kemarin,isi hati ini selalu mengarahkanku untuk bersikap seadanya dan bertingkah sewajarnya. Lalu,apa maksud dari semua itu? Terkadang aku masih bertanya tanya apa mau hati ini. Hati yang selama limabulan ini kau ikat,sekarang ia memberontak. Apa kau mengikatnya terlalu kencang sehingga ikatanmu menggoreskan luka? Dan sepertinya ia harus mengambil tindakan agar tetap utuh dan tak lagi rapuh.

Sejujurnya tak ada niatku untuk melukaimu. Bukan maksudku untuk menjauhimu. Tapi,aku cuma  tak mau menjadi bebanmu lagi.  Aku tidak akan lagi menjadi wanitamu yang manja dan rewel seperti biasanya. Tak kan lagi menjadi wanita yang selalu mengemis untuk diperhatikan. Karena aku tau kesibukanmu.
Aku belajar untuk mengerti keadaan,aku belajar untuk mencintai sewajarnya. Mencintaimu sekecil ujung kuku,walaupun sudah dipotong berkali kali akan tetap tumbuh.
Karena mencintai berlebihan pun akan selalu menimbulkan bencana. Seperti kerinduan yang selalu menghantui. Gara gara rindu kemarin ada goretan luka lagi dihati. Tapi tak apa,ia akan segera sembuh.

Banyak kejadian yang harus dijadikan pembelajaran. Mulai sekarang aku banyak belajar,termasuk belajar melawan rindu yang katanya ia sangat jahat sekali.
Rinduku akan terdamaikan secepatnya,karena aku sadar bahwa kita sangat dekat dan selalu dekat. Setiap malam kita tertidur dibawah langit yang sama. Lalu rindu itu akan musnah dengan sendirinya jika aku sudah berfikir seperti itu.

Semua yang kulakukan mungkin masih tidak terbiasa. Tapi suatu saat hal ini akan menjadi biasa. Kita akan sama sama terbiasa menjalaninya.
Kurasa aku telah didoktrin sama sesuatu yang berada didalam dada ini. Mau tidak mau aku harus mengikutinya,mungkin ini maksud yang terbaik.
Karena entah aku menjadi takut untuk mengenal cinta terlalu dalam. Takut ada luka baru lagi yang tega membasahi hati ini. Tapi aku percaya semua ini tak kan terjadi lagi. Aku percaya kamu akan melindungi hatiku seperti kamu melindungi hati ibumu.

Rabu, 02 Desember 2015

Rindu

Rindu. Kata itu yang sekarang sangat ku benci. Kata itu seakan monster yang amat menyeramkan. Ketika ia sudah menghantui entah aku harus berucap apa lagi. Semua rasa menjadi satu. Takut,sedih,sakit,amarah,kecewa semua berada diwadah yang sama.
Kenapa didunia ini harus ada istilah kata rindu? Yang jelas jelas ia sangat jahat sekali. Ia tega merampas senyum seseorang dan menggantikannya dengan air mata. Dan aku baru menyadari bahwa rindu itu adalah penyebab masalah terjadi.

Saat ini aku berdiam diri ditemani oleh rindu. Rasa yang selalu saja mengikuti langkahku kemanapun aku pergi. Aku sendiri disini,tanpa gandenganmu dan tanpa pelukanmu.
Entah mengapa lagilagi aku merasakan seperti ini,padahal dulu saat diawal kamu tidak pernah membuatku sekacau ini karena kerinduan. Tapi tiga minggu belakangan ini,kau selalu saja membuatku mencaci diriku sendiri.

Apa maumu?
Apa saat ini aku lagi diajarkan agar aku terbiasa tanpamu?
Apa kelak kau akan menjadikanku sama seperti wanita mu yang dulu,yang selalu menahan rindu dalam diam?
Atau sudah ada wanita lain yang bisa lebih membahagiakanmu,mengerti kondisimu dibanding aku?
Atau..........ah sudahlah pertanyaan yang sangat bodoh untuk dipertanyakan.

Aneh sekali rasanya jika aku sudah merasakan seperti ini. Kau tau sendiri,bagaimana tingkahku ketika rindu mulai menggerogoti. Selalu menjadi wanita tolol yang tak tau arah.
Selalu mencari masalah untuk diperhatikan. Selalu saja wanita manja ini membuatmu jengkel karena ulahnya. Selalu dan selalu membuat kekacauan. Tapi semua itu karena rindu. Ia jahat sekali sayang.

Bantu aku untuk memusnahkannya dan bantu aku untuk membuatnya tak kembali lagi. Aku lelah jika harus berurusan dengan rindu.
Sebenarnya aku memaklumi kesibukanmu. Aku sadar bahwa kau bukanlah orang sipil biasa. Seharusnya aku melihat ayah dan kakakku yang kesibukannya sama sepertimu. Ya aku memaklumi aktivitas aparat seperti kalian yang waktunya kurang lebih untuk negara.
Tetapi,semua fikiranku kalah dengan rindu,ini menyakitkan-.

Yang biasanya perjumpaan kita dua hari sekali,sekarang ini menjadi seminggu sekali.
Dengan belum keterbiasaan ini,menjadikan rasa sakit yang luar biasa. Mungkin aku terlalu seperti bocah yang tak pernah mengertikan keadaanmu,tapi sekali lagi kubilang,-aku belum terbiasa.

Bagaimana jika aku kehilanganmu? Bagaimana jika nanti kau tak disampingku lagi? Rindu level berapa lagi yang akan ku rasakan?
Masih berada dalam pelukanmu saja rindu ini sudah menjadi monster,bagaimana rindu saatku tak berada dipelukanmu lagi? Tak terbayangkan.

Kamis, 19 November 2015

tentangmu

Aku masih menulis tentangmu. Aku masih merangkai katakata sehingga terlihat indah untukmu. Lagi lagi kamu. Lelaki yang bersifat arogan yang terkadang sangat humoris. Entah julukan seperti apa yang pantas untukmu. Dan mungkin kali ini aku akan bercerita di ruangan yang sama tetapi disudut yang berbeda.

Seringkali hubungan ini bergonjang ganjing seperti gempa yang akan menghancurkan bumi. Banyak sekali titik masalah kecil yang menjadi besar karena ulah dan sifat kita. Mungkin ini yang namanya cobaan hubungan,yang katanya semakin lama cobaan akan srmakin besar. Tetapi dibalik itu semua,dibalik aroganmu aku sangat melihat ketulusan dan kesungguhan kasih sayang yang kauberi. Disaat peperangan dimulai,kau memang seperti lelaki yang amat menjengkelkan yang selalu saja membuatku ingin berlari kencang karena mendengar celotehanmu yang seperti duri.
Akan tetapi kutau maksud dari amarahmu. Kau hanya ingin aku menjadi yang terbaik dan lebih memahami arti kedewasaan. Hanyasaja ku akui,aku yang sangat keras kepala untuk dibimbing olehmu,kuakui itu.

Banyak yang harus ku pamerkan tentangmu.
Disaat semuanya baik baik saja,disaat semua masalah sudah selesai,aku mulai nerasakan keberuntungan memiliki sosok lelaki sepertimu. Walaupun arogan,aku selalu melihat sisi positif yang kamu punya. Aku bahagia memilikimu sayang. Aku merasa keberuntungan dipihakku. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu bahkan mencintaimu sampai detik ini.
Ku harap kau juga merasakan sepertiku.

Kau penenangku sayang,kau orangtua ku yang slalu mengarahkanku kejalan yang benar.  Kau jagoanku yang selalu melindungiku. Kau guruku yang selalu mengajari artinya kehidupan. Kau sahabatku yang slalu menjadi tempat berbagi cerita. Kau temanku yang selalu terima tingkah canda konyolku. Bahkan kau bisa menjadi musuhku yang sangat ku benci. -Kau seperti power ranger yang bisa berubah ubah.

Banyak sekali cobaan yang sudah kita lalui,aku sangat berharap sekali kita bisa melewati semuanya. Karena kamu akan ku jadikan tempat pemberhentian terakhir. Tak akan lagi aku mencari cari ketenangan lain diluar sana,karena aku sudah terlalalu bahagia memilikimu.
Tetap berada disini sayang,disampingku. Karena aku tidak akan bisa berdiri bila semua itu tanpamu. Kau bukan beban untukku,kau lelaki  yang luar biasa hebat menghadapi perempuan bocah sepertiku. Aku bersyukur sayang.
Tetaplah disini berjuang bersama,menyatukan visi misi yang sama.




Selasa, 17 November 2015

perasaanku kacau

Aku benci malam ini. Aku benciiiiiiiiiiiiiii sungguh aku sangat benci.
Perkataanmu yang begitu tajam membuat seluruh badan ini terasa kaku,igin sekali ku menjerit kesakitan.
kau tau rasanya menahan tetesan air mata didepan banyak orang? Ini hal bodoh,ini situasi bodoh,aku sangat benci.

Memang aku wanita yang paling terburuk yang pernah kamu milikki. Aku akui sifatku yang begitu menjengkelkan mebuat kau muak disetiap harinya.
apa aku masih pantas untuk tetap disisimu? Apa aku masih pantas untuk tetap berjuang bersamamu meraih masa depan? Sedangkan tadi kau bilang bahwa aku "bukan penyemangatmu lagi,bukan penghiburmu lagi,bukan penenangmu lagi" melainkan " aku adalah beban untukmu saat ini".
Maafkan aku sayang,lagilagi aku tak bisa jadi yang kau mau:')

Dari perkataanmu barusan,apa kamu memikirkan kondisiku? Apa kamu memikirkan perasaanku karena perkataanmu yang begitu tajam? Jelas tidak kan? Kamu pasti hanya memikirkan  kesalahanku.
aku sengaja mematikan handphone bukan berarti kabur dari situasi berapi ini,tapi aku tak tau harus menjerit seperti apalagi membaca kata kata mu yang sangat nyelekit dihati.
Sayang,asal kau tau. Disini,detik ini,batinku sakit sekaliiiiiiii,air mataku keluar sangat derassssss tak seperti biasanya,aku harus mengahapusnya sendiri,aju harus merasakan perih ini sendiri lagi.

Maaf . Lagi lagi kata maaf yang mungkin bisa ku lontarkan. Dengan banyak kesalahanku,dengan banyak kekecewaanku,aku minta maaf atas semuanya. Aku hanya  perempuan lugu bahkan buruk rupa yang hanya bisa membebanimu.
kau pantas sayang mendapatkan yang super lebih segalanya dariku.
apa aku bisa merelakanmu bersama yang lainnya? Apa lagilagi aku harus menjadi perempuan tolol yang munafik yang dengan gampangnya berkata " aku ikhlas,asal kamu bahagia" itu tololllllll sekali.
Sejujurnya hati ini tidak rela melihatmu bersama yang lain.
bantu aku sayang,peluk aku........hapus air mata ini.......aku tidak tahan,aku lemah sekali malan ini. Tak sanggup lagi aku bertutur kata membalas katakatamu itu. Oh  Tuhan tenangkan lah hati ini:")

Aku menyayangimu,aku menyayangimu,aku menyayangimu:"""""""""

Minggu, 08 November 2015

janjimu,mengecewakan.

Dengan siapa aku harus bercerita malam ini? Dengan siapa aku harus mengadu tentang masalah yang ada? Dengan siapa aku harus mencurahkan isi hati ketika hati ini sedang gak karuan? Dengan siapa aku harus bersandar ketika diri ini sudah lelah untuk menghadapinya? Dengan siapa aku harus mencari pelukan ketika aku sedang butuh ketenangan? Dan siapa yang akan menghentikan hujan di mata ini? Siapa?

Kamu,tempatku segalanya sekarang berubah. Kini aku hanya bisa mencurahkan semuanya disini. Dengan rangkaian kata seadanya dan ditemani iringan musik yang kudengar lewat headset,ku harap kamu membacanya dan paham tentang apa yang kurasakan karena ulahmu.
Selalu saja,lagi lagi kubercerita tentang kesedihan. Apa ini yang selalu kurasakan?sebenarnya ku bahagia memilikimu,tapi kenapa lagilagi kau membiarkan wanita bodohmu ini merasakan tangisnya sendiri? Kau hobi sekali membuat mata ini hujan tanpa ada tanggung jawabmu. Apa malam ini kamu tak ada niat untuk mencerahkanya? Apa kamu belum puas membuat wanita bodohmu ini selalu menjerit?

masalah tadi pagi yang sebenarnya sepele malah menjadi tak berujung. Dan sampai akhirnya aku sendiri yang harus mengemis maaf karena kesalahanmu. Aku memang wanita bodohmu,tapi aku mempunyai hati yang sangat mudah untuk dipatahkan ketika sesorang yang disayanginya malah mengecewakan. Aku lemah,ya aku sangat lemah oleh cinta.
Seharian perdebatan kita tak kunjung selesai. Egomu lagilagi membuat hati ini rapuh. Sikapmu yang seakan tak mau kalah membuatku jera. Apa ini yang kau mau? Apa ini yang membuatmu bahagia? Aku terima sayang,kebahagiaanmu kebahagiaanku juga.

Malam ini aku masih merasakan kekecewaan. Mataku masih mengeluarkan rintikan hujan.
Sadarlah,semua ini karena ulahmu. Janji yang tak bisa kau tepati membuatku sangat kecewa. Aku punya hati,bukan untuk dibuat terbang lalu dijatuhi berkali kali. Jangan mengucapkan janji jika sekiranya tidak bisa ditepati. Jangan selalu mengeluarkan kata manis jika nantinya akan menyakiti.
Amarahku tak kan membuatmu berusaha untuk menetralkan keadaan. Justru sikapmu malah membuat semuanya makin runyam. Bahkan sampai detik ini kau tak berusaha untuk membuatku tersenyum lagi. Selalu saja kau merampas senyumku. Selalu saja aku yang berjuang sendiri untuk mengubah keadaan.

Hatimu beku. Susah sekali untuk dicairkan. Entah kau menganggapku ada atau tidak. Atau aku hanya dijadikan wanita sesaat? Entahlah,aku yakin kau tak kan seperti itu.
Usahaku sedari sore tadi tak ada artinya. Kemarahanmu karena kesalahanmu membuat hatimu sangat beku. Dengan cara apalagi aku harus meluluhkannmu?
Apa kau memikirkan perasaanku? Apa kau memikirkan kondisiku? Apa kau memikirkan hatiku? Asal kau tau,semuanya menjadi buruk. Tapi apa kau peduli? Ku meneteskan air mata saja kau takan menghapusnya lagi. Hatiku menjerit saja kau tak kan menenangkan lagi. Kau tak ada disini,padahal detik ini aku sangat membutuhkanmu.

Rabu, 04 November 2015

aku tak kan melukaimu,percayalah

Menikmati mimpi ketika tertidur dimalam hari, sangat menyenangkan. Serasa tak ada beban dihidup ini. Seakan aku akan merasakan bahagia selamanya, melayang layang kemana saja sesuka hati. Dan berharap kenyataan diesok hari akan seindah mimpi semalam.

Seperti biasa, sebelum tidur aku sangat hobi sekali mendengarkan musik melalui headset sampai ku tak tau lagi dimana alunan musiknya sampai ku tertidur pulas. Bunga tidur semalam sangat susah dilupakan,karena terlalu indah. Ketika ku bangun dari tidurku,ternyata kenyataan tak seindah mimpi.

Tarikan nafas yang terlalu dalam membuat sesuatu yang berada didalam dada ini sangat sakit. Hmmmm,lagi lagi tentang kesakitan. Entah siapa yang terlalu sakit,aku atau kamu? Kamu karena ulahku atau aku karena sifatmu? Memang,semuanya susah ditebak.

Apalagi yang harus kuceritakan disini, sedangkan aku tak tau lagi kata kata seperti apa yang harus kurangkai. Aku tak mau lagi ada salah kata sehingga membuatmu salah paham. Aku bingung,lagilagi semuanya menjadi kacau. Seperti debu yang tertiup angin sehingga berterbangan entah kemana.

Peluk aku...... Karena hanya pelukanmu yang bisa mengembalikan ketenangan. Hanya jemarimu yang bisa menghentikan hujan dimata ini. Tapi apa bisa? Sedangkan semua ini adalah karenamu.

Kau pernah mengajariku sebuah kesetiaan bukan? Kau pernah mengajariku juga tentang kepercayaan. Tapi kenapa kau sendiri yang lemah akan hal itu? Kamu sendiri yang memintaku untuk percaya dan tetap jaga hati untukmu. Lagi lagi, mengapa kamu sendiri yang tidak memahani arti kepercayaan? Otakmu selalu saja di racuni dengan pikiran negatif. Percayalah sayang,aku bukan wanita yang bejat yang brengsek yang suka berkeliaran disana sini. Aku hanya wanitamu yang lugu dan teramat bodoh,sangat bodoh. Tidak mungkin wanita lugu dan bodoh ini akan bermain main dibelakangmu. Sering ku katakan,semua itu tidak akan mungkin.

Ketika kau sibuk dengan urusanmu,aku tidak pernah menyibuk kan diri dengan seseorang yang lain. Aku tidak pernah berfikir bahwa kau akan melukaiku,tidak. Aku percaya dan selalu percaya bahwa kamu akan tetap bersamaku. Kuharap kau bisa seperti itu

Aku tak bisa berbicara lagi,aku tak bisa merangkai kata lagi sehingga membuatmu paham.
Aku tak akan melukaimu,percayalah.

Senin, 26 Oktober 2015

dia,wanitamu yang dulu.

Masalalu. Masalalu itu adalah kenangan. Entah itu indah atau buruk, intinya aku yakin semua orang pasti punya masalalu. Bahkan kamu,bahkan juga aku.

Disini,  dicerita ini entah kenapa aku ingin sekali membahas dia,wanitamu yang dulu.
Bukan bermaksud untuk menyinggung perasaanmu atau perasaanya. Tapi jemariku yang kini diatas keyboard hanyalah mengetik apa yang dikatakan oleh isi hati.
Mungkin hati dan pikiranku selalu bertanya tanya siapa sebenarnya wanita asing itu?
Dia amat asing dimataku. Aku sama sekali tak mengenalnya dan tak megetahui seperti apa wajahnya. Aku hanya mengetahui dia dari berbagai macam sosial media.
Tapi tidak untukmu. Dia tak asing dimatamu,bahkan dihatimu.

Semakin hari rasa penasaran ini semakin besar. Dan terkadang keberanian untuk mencari tau kisahmu dengannya malah semakin menjadi. Walaupun aku sangat tau,ini akan menyakiti diriku sendiri. Aku tak perduli bagaimana kondisi hatiku nanti,karena aku hanya percaya satu hal,jika kamu benar menyayangiku apapun yang terjadi kamu akan tetap berada disini dan tidak pergi menjelajahi yang lain.

Tekatku mulai berjalan. Ketika kulihat diberbagai macam sosial media,dan ketika aku baca cerita cerita diblognya,sepertinya dia masih menyayangimu. Bahkan sebenarnya dia sangat mengaharapkan agar  kamu  datang kembali menyapanya.
Dia ingin sekali melihat sosokmu saat ini. Walaupun lukanya masih membekas,kurasa dia sangatlah merindukanmu.

Lagi lagi blognya kubaca berkali kali. Dalam waktu kurun setahun terakhir ini dia masih menulis tentangmu.
Bohong,  ketika ku baca semua isi diblognya perasaanku biasa aja. Tapi karena kutau gimana perasaan perempuan ketika merindukan mantan kekasih terlamanya. Karena akupun pernah mengalaminya. Kali ini aku tidak ingin egois,dan aku coba untuk mengerti. Karen tujuan awalku bukan untuk mencari masalah.

Isi dari setiap judul kubaca lagi. Kalimat demi kalimat kupahami. Tak tega rasanya melihat hati sosok sepertiku menahan rindu dan sakit yang amat dalam. Apalagi kutau ternyata dialah yang menemani perjuanganmu sehingga kau bisa berseragam coklat seperti sekarang ini. Dan kini dia harus menahan rindu dalam diam,ini luar biasa. Dia perempuan hebat yang pernah kau milikki.

Bintang dilangit mulai muncul lagi. Udara yang begitu sejuk dan segelas cangkir kopi sangatlah pas untuk kita saling bercerita. Dengan awalan candatawa yang akan memulai perbincangan kita masalah ini. Lalu aku berbicara sesuai keadaan. Tarikan nafas yang amat dalam lalu kubuang dengan perlahan membuatku tenang untuk menceritakan semuanya. Dari sorotan matamu aku melihat sekali bahwa kau juga sangat merindunya. Tapi tak masalah. Aku masih bisa tenang untuk melanjutkan perbincangan kita. Sampai akhirnya kau meminta izin untuk menemuinya menjelaskan dan meminta maaf. Lagilagi bagiku ini tidak masalah,karena aku belajar percaya dan yakin bahwa kau  tidak akan menyinggahi yang lain. Apalagi dia adalah wanitamu yang dulu yang mungkin banyak berkorban untukmu ketika kau sedang berjuang. Aku memakluminya.

Mungkin bagimu aku sangat bodoh menceritakan tentang masalalumu. Tapi entah kenapa hati ini tersentuh melihat keadaannya dan merasakan sekali apa yang dirasakannya.
Dari semua yang ku tulis kata demi kata,bukan berarti aku merelakanmu kembali,tidak. Hanyasaja aku mengajarimu sebuah kepercayaan. Aku sangat percaya dan yakin akan segala hal tentangmu. Tolong jangan patahkan semua itu.
Tetap menyapanya,menjalin silaturahmi yang baik agar semua tidak akan menjadi konflik.

Sungguh,cerita ini sangat kotor untuk ku tulis tapi apalah daya yang tidak selamanya bisa memendam isi hati.


Selasa, 20 Oktober 2015

sisa kisah semalam

Rasa perih bekas semalam masih terasa. Ketika aku bangkit dari tempat tidurku,ku kira semuanya sudah biasa saja. Tapi nyatanya semua masih sama. Masih saja menyimpan luka. Ya luka yang mungkin kau fikir karena ulahku sendiri. Tapi apa kau pernah berfikir bahwa luka yang kurasa ini juga karenamu?
Egomu begitu tinggi untuk selalu menyalahkanku. Hingga kau tak pernah sadar akan semua kesalahanmu sendiri. Kau terlalu egois sayang,tapi kau selalu saja yang menganggap aku yang begitu keras kepala.

Aku sampai tak tau harus bagaimana lagi membuatmu paham,membuatmu mengerti perasaanku. Isi hati yang ingin sekali menjerit karena duri yang menusuknya begitu tajam,amat tajam.
Tapi percuma,kau tak akan pernah mengerti. Kau tak akan pernah paham. Kau selalu salahpaham. Dimatamu tetap aku yang salah,egoku yang terlalu tinggi.

 Jemariku gemetar mengetik diatas keyboard. Lagi dan lagi mataku kembali mendung. Ingin sekali aku menahan semua itu. Ingin sekali aku menyembuhkan lukaku sendiri. Tapi tetap,kamu selalu berlari difikiranku. Seakan kau menginginkanku untuk menyalahkan diriku sendiri. Tapi bisakah untuk kali ini kau hargai sedikit saja usahaku? Usahaku yang amat keras untuk menjadi yang kau mau. Menjadi yang lebih baik. Menjadi wanita kuat.
Tapi kamu sendiri yang meruntuhkan kekuatanku. Tiangku sendiri yang membuat diri ini jatuh lagi.

Kali ini aku hanya bisa terdiam,aku hanya bisa menangis dalam hati. Aku tak ingin lagi banyak bicara didepanmu. Tak ingin lagi mengeluarkan setitik air mata dihadapanmu.
Walaupun dimatamu aku terlihat egois mementingkan diriku sendiri tapi kau tak pernah mau melihat usahaku yang membuat semua kembali baik baik saja.
Kutau kamu sudah jera mendengarkan semuanya. Bahkan kamu sudah muak melihat kalimat  demi kalimat yang menjijikan ini. Yang dimatamu seakan aku membela diri.
Semoga kau senang dan kau tenang dengan keadaan yang menyebalkan ini.

selalu salah

Aku sangat membenci tragedi malam ini. Suasana yang sebelumnya baik baik saja menjadi hancur berantakan. Hati yang sebelumnya berbunga bunga menjadi layu seketika.
Ada apa denganmu? Yang membuat wanita yang katanya kau sayangi ini sebelumnya tertawa lepas berubah menjadi meneteskan air mata? Apa kau tega merampas tawanya begitu saja?

Perbincangan kita lewat telephone tadi ternyata berakhir cukup tragis. Ya tragis.
Bukan ini yang aku inginkan ketika aku sengaja untuk menelfon mu. Hanyasaja niatku ingin canda tawa denganmu. Menceritakan hal hal konyol bersamamu. Dimanja olehmu. Tapi kecerahan yang ku berikan justru dibalas dengan air hujan.

Ini bukan salahmu. Jelas,disini sangat jelas. Ini salahku. Aku sadar akan hal itu.
Dimatamu,aku hanyalah wanita yang masih saja seperti anak balita. Yang selalu ingin bercanda,main main boneka,menceritakan lelucon yang sama sekali kau tak menyukai ceritaku. Yang selalu saja mengulangi kesalahan yang sama ketika berulang ulang kali dinasehati. Aku salah.

Maaf sayang,wanitamu ini amat bodoh. Amat menjengkelkan. Keras seperti batu.
Maaf,wanitamu ini belum jadi seperti apa yang kamu impikan. Wanitamu ini tidak sesempurna seperti wanitamu sebelumnya. Maaf sayang, wanitamu ini belum bisa membuat kau bahagia. Wanitamu ini belum bisa membuat kau bangga memilikinya. Akan tetapi wanitamu ini sangat bangga,sangat bahagia,dan merasa menjadi wanita paling beruntung memilikimu.

Mungkin kamu amat bosan,dan malas sekali mendengar ucapan kata maaf yang beribu ribu kali ku keluarkan. Hanya itu yang bisa ku katakan didepanmu.
Aku terdiam bukan berarti aku acuh. Aku tak ingin apa yang dipermasalahkan menjadi panjang dan tak berujung. Tapi dimatamu sikapku salah,seakan aku bosan mendengarkan nasehatmu. Ketika aku berbicara dan balas perkataanmu,sikapku juga tetap salah dimatamu. Seakan aku membela diri dan menentangmu. Aku selalu salah,dan kau menang,kau selalu menang.

Desahan nafas malam ini begitu cepat. Sesuatu yang didalam dada ini rasanya begitu sangat sakit. Seperti habis loncat dari atas gunung menuju jurang. Cairan bening dimata ini tak kunjung henti. Aku benci keadaan seperti ini. Aku benci ketika esok bangun tidur mataku menjadi sembab. Dan aku tau sekarang kau sedang merasakan hal yang sama sepertiku. Hatimu menjerit. Kita merasakan perasaan yang sama.

Ketika didepanmu aku terdiam,tetapi hatiku berbicara. Ingin sekali rasanya memelukmu erat erat seakan aku melarangmu untuk pergi. Aku takut,aku sangat takut kau pergi meninggalkan wanita yang katanya sangat disayangi ini krn insiden tadi.

Tolong,hargai perubahanku. Kau yang membawaku untuk menjadi yang lebih baik.
Kau yang memintaku untuk menjadi yang kau impikan. Kau yang mengajariku arti kedewasaan. Kau yang membimbingku akan segala hal. Dan jika aku belum bisa jadi apa yang kau mau,tolong tetap paksa aku dan terus latih aku tanpa ada kata lelah. Itu hanya masalah waktu saja. Akupun ingin membahagiakanmu seperti kau yang terus berusaha untuk membahagiakanku. Tapi aku mohon,jangan sudutkan aku diatas kesalahanku.

Boneka pemberianmu kupeluk erat malam ini. Dan aku merasakan sosokmu berada dipelukanku.
Lalu sekarang bagaimana aku mengembalikan kecerahan? Sedangkan mataku sudah terguyur hujan yang sangat deras.

Minggu, 18 Oktober 2015

merindukan sosokmu

Kamarku malam ini begitu sepi. Tak ada yang mendengarkan ceritaku,tidak ada yang melihat kekonyolanku. Berbaring ditempat tidur sendiri tanpa ditemani malaikatku seperti biasanya. Ya, sepi,sunyi dan entah mengapa aku merasakan kerinduan yang luar biasa malam ini.

Rindu? Ya aku amat merindukan dikala aku masih kanak-kanak.
Rasanya kebersamaan dengannya yg dulu ingin ku ulangi lagi.
Senyumnya canda tawanya ingin ku lihat lagi dari dirinya tanpa ada beban apapun.

Sungguh,aku ingin merasakan lagi rasanya jalan jalan berdua sepeti dulu.
Berada dipangkuannya ketika aku sedang menangis. Ditimang timang ketika aku sedang sakit.

Kau begitu hebat. Kau begitu kuat. Bahkan diriku tak kan mampu sepertimu.
Ribuan rintangan telah kau lewati dengan lapang dada. Dan sampai detik ini kau masih tetap bertahan,kau masih tetap berusaha untuk bangkit lagi. Aku bangga memilikimu,aku bahagia mempunyai malaikat sepertimu.

Banyak sekali perjuangan yang kau lakukan demi buah hatimu. Bahkan disaat tubuhmu mulai tak berdaya,Kau tak pernah menyerah dan kau tak pernah mengucapkan kata lelah.
Apapun akan kau lakukan demi kebahagiaan buah hatimu tanpa mengharapkan imbalan.

Maafkan putrimu yang tidak bisa menjadi wanita kuat sepertimu.
Yang selalu saja membuatmu kesal akan tingkah lakunya yang konyol.
Tapi Apakau tau? Selama ini hati putrimu menjerit melihat ketidak berdayaanmu.
Perih rasanya melihat sosok malaikat yang melahirkanku berteriak melawan rasa sakitnya.

Terkadang mereka yang tak merasakannya hanya melihat aku adalah buah hatimu yang amat manja. Manja akan segala hal. Mereka tak yakin bahwa aku bisa menjadi wanita mandiri layaknya mereka yang sudah lepas dari bangku sekolah. Yang mereka tau aku hanyalah wanita yang beranjak dewasa yang masih saja berada di himbauanmu.
Mereka tak pernah tau bagaimana aku merindukan sosokmu yang dulu,mereka tak pernah mengerti bagaimana rasanya jadi wanita seumuranku melihat malaikatnya tak berdaya.
Sejujurnya aku ingin sekali merasakan seperti mereka layaknya anak seumuranku tertawa lepas tanpa ada beban apapun. Tapi Tuhan berkata lain,tuhan mengajariku untuk belajar menjadi wanita yang kuat hingga seperti malaikatnya.

Tetap berada disini. Tetap berada disampingku. Dan aku mohon izinkan aku untuk membahagiakanmu. Disetiap waktu yang kupunya selalu terselip namamu dalam doaku.
Tetap menjadi malaikatku yang kuat. Aku percaya dan aku sangat percaya kita bisa seperti dulu lagi.






Cepat sembuh karena aku sangat menyayangimu, ibu.

memilikimu,kebahagiaanku.

Rasanya aku ingin sekali menari diatas awan, melayang mengelilingi dunia yang begitu indah, lalu berteriak bahwa ku sangat bahagia memilikimu. Entah bahagia seperti apa, yang jelas semenjak ada kamu hidup ini berwarna.

Memang, didunia ini selalu saja ada yang lebih baik dari kamu, lebih gagah dari tubuhmu, lebih tampan dari wajahmu,  lebih mapan, bahkan lebih dari segalanya dari apa yang kamu punya. Bahkan sebaliknya sayang, akan ada yang jauh lebih baik dariku. Tapi aku tidak pernah memperdulikan itu semua.

Dan apa kau tau? Semenjak kau hadir, aku memutuskan pencarianku berakhir.
Semenjak itu pula aku menganggap  kau sebagai pemberhentian terakhir.
Walau sebenarnya aku tidak tau dan aku tidak pernah tau bagaimana kedepannya nanti, apakah pilihanku sama dengan pilihan-Nya?

Ya, aku selalu memanjatkan doa dan segala pintaku pada-Nya. Menyebut namamu didalam doaku dan membawamu disetiap langkahku. Sekali lagi, yang aku tau sampai detik ini hanya kau lah pria yang mampu membuatku ingin terus  jatuh lebih dalam lagi. Bukan jatuh karena kesakitan, tapi jatuh menelusuri kasih sayangmu.

Kamu yang membuatku tetap bernafas dari dalamnya lautan, kamu yang membuatku terus tetap berlari dari tajamnya kerikil, kamu yang membuatku terus menaiki tingginya puncak gunung walau sebenarnya tubuh ini sudah lelah.
Kau penyemangatku. Karena sebelum ada kamu, aku tidak setegar ini, ku tidak sekuat ini.

Terimakasih untuk segalanya. Kau begitu sederhana. Dengan segala nasehatmu,dengan segala caramu bahkan dengan gretakanmu yang mampu membuatku seperti ini.
Kesederhanaanmu mampu membuatku menjadi wanita terbahagia.
Terimakasih kau  telah memberiku ruang untuk menjadi bagian dari keluargamu.
Kau memberikanku sesosok ayah,ibu,dan adik-adik yang tentunya aku menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri.

Terimakasih untuk bahagia yang kau beri. Terimakasih masih bersedia memilikiku sampai detik ini bahkan disaat keadaanku sedang berada dititik terlemah. Terimakasih masih memberiku ketenangan disaat hati ini sedang ricuh.

Tidak perduli bagaimana akhirnya nanti, bagiku kaulah semestaku, kaulah pria setelah ayah yang kebahagiannya akan terus kuperjuangkan.
Teruslah menjadi dirimu, begitupun aku.
Aku mencintaimu, terlalu.

Rabu, 14 Oktober 2015

kesalahan lagi

Ketika perjalanan mulai cukup jauh, ketika itu juga kita mulai melewati berbagai rintangan.
Apakah aku harus menyerah karna sebuah rintangan? Sedangkan kita belum sampai pada tujuan.

Perempuan bodohmu ini sangat lemah sayang, jika kau mulai membentaknya.
Amarahmu sungguh membuatku takut, seakan aku ingin bergegas lari dari hadapanmu.

Aku terdiam. Tak ada satu katapun yg berani kulontarkan ketika aku salah.
Aku tak bisa membela diri dengan semua alasan yg ku keluarkan. Kau tetap menang.

Apa kau tau? Kurasa kau sangat tau bahwa dihati ini hanya ada kamu. Kurasa kau sangat merasakan bahwa aku sangat mencintaimu.
Difikiranku tak sepicik yg kau fikir. Aku hanya wanita bodohmu yg selalu kau bilang masih kekanak kanakan. Apa mungkin wanita bodoh sepertiku ingin bermain api dengan pria lain yg belum tentu dia sebaik kamu? Tidak sayang.

Aku hanya bisa terdiam. Aku tak bisa bertutur kata lagi dihadapanmu.
Mataku kembali hujan. Hujan yg sangat kau benci. Dan ketika suasana mulai hening, jemarimu mulai membelai rambutku dan kedua tanganmu yg amat ku rindukan mulai memberikan pelukan. Tak ingin rasanya ini cepat berlalu.

Maaf sayang, hatimu sudah tergores lagi. Lagi dan lagi sikapku membuatmu jengkel.
Entah kau yg terlalu posesif atau aku yg terlalu sibuk dengan kebahagiaanku.
Apapun itu, aku bahagia memilikimu. Kau bukan sekedar pelindung, kau juga membimbing, bahkan bagiku tak ada lagi pria lain sepertimu.

malam ini

Sepi...sunyi...sendiri....
Kamar yang begitu gelap tanpa adanya cahaya lampu dan ditemani dengan iringan musik.
Tubuh yang terlentang diatas kasur dengan selimut yg cukup tebal, kurasa suda cukup sebagai perlengakapan ku malam ini.

Aku sangat menyukai situasi seperti ini ketika hati ini sedang ricuh.
Entah harus bagaimana aku mendeskrepsikan yg aku rasakan malam ini,
Mengetik diatas keyboard pun aku tak sanggup.

Maaf, jika wanita yg kamu sayangi ini menjadi lemah karna hampir terkalahkan oleh ombak ombak yang selalu saja menghampiri.

Kamu tau sayang? Kamu adalah tiang, yang menjadikan wanita bodoh ini berdiri lagi.
Seandainya kamu memberiku satu permintaan, hanya satu yg ku pinta malam ini,
Berada disini dengan pelukan yg erat dan aku janji aku tak kan izinkanmu untuk melepaskan pelukan itu.

Hujan dimata yg sering kamu tatap ini semakin deras, Pipi ini semakin basah krn tersiram olehnya.
Aku tau kamu amat membenci hal itu, tapi malam ini perempuan bodohmu tidak tahan untuk membendungnya lagi.


Iringan musik semakin lembut, lirik liriknyapun semakin menyentuh hati
Suasana yg amat  sepi sendiri dengan keadaan ruangan yg begitu sejuk.
Aku masih belum paham harus menceritakan isi hati ini seperti apalagi.
Kata kata bagaimana lagi yg harus aku beberkan.
Mengeluarkan satu katapun, hati ini sepertinya ingin menjerit.

Maaf sayang wanitamu yg kerdil ini tidak sekokoh wanitamu sebelumnya.
Saat ini aku hanya seperti wanita yg lugu yg hanya ingin membuatmu bahagia memilikiku.
Sungguh, aku tak mengerti kata kata seperti apalagi yg harus aku rangkai supaya kamu paham, bahwa aku sangat menyayangimu dan aku bahagia memilikimu sampe detik ini,aku harap kamu pun begitu.


Terimakasih selalu bertahan,mengalah dan memberi arah sampai detik ini.



Selasa, 13 Oktober 2015

dibalik tubuh gagahmu

Ketika kekosongan melanda berbulan bulan
Ketika kesendirian ini setia menemaniku
Ketika itu juga hati ini sangat takut untuk singgah dihati lelaki yg baru.

Sungguh,aku sangat takut untuk memulai kisah yg baru apalagi denganmu.
Lelaki yang baru kukenal 2hari yang begitu cepatnya memberi rasa nyaman untukku.
Aku tidak percaya. Secepat ini takdir menyatukan kita?

Dan akhirnya ketakutan ku kalah dengan rasa nyaman yg kamu berikan.
Semua bagaikan kilat. Pendekatan kita yg hanya sekejap saja ternyata menjadi indah.
Aku bahagia mengenalmu,sungguh aku merasa menjadi wanita sangat beruntung memilikimu.

Dibalik tubuh gagah dengan seragam coklatmu,kamu  adalah lelaki yg sangat humoris.
Lelucon yg slalu kamu ucapkan untuk membuatku tertawa setiap hari.
Disisi lain aku mencintaimu tanpa suatu alasan.

dan sekarang sudah 92hari aku menemanimu.
Berbagai rintangan kita lewati.
Berbagai macam ombak kita terjang bersama.
Tanpa ada lelah dan terimakasih masih bertahan disini untuk tetap menjadi pelindungku.


Smoga kita bisa menerjang ombak berikutnya bersama,sayang.


Kamis, 23 April 2015

Hidup adalah perjuangan yang mempunyai berbagai macam cerita

Semuanya pasti tau dan pasti merasakan bahwa hidup itu adalah perjuangan . Dan aku yakin semua manusia didunia pasti pernah dan selalu merasakan yang namanya perjuangan. Untuk makan sehari-sehari kitapun harus berjuang mencari uang untuk membeli makan. Orang sakit pasti akan berjuang melakukan apapun  supaya tetap bertahan hidup. Dan untuk meraih apa yang kita inginkan atau meraih cita-cita itu pasti harus dengan perjuangan yang besar. Dan yang namanya Perjuangan itu tidak ada yang mudah. Kita harus berkorban,dan kita tidak boleh lupa dengan yang namannya Berdoa. Karena berjuang tanpa ingat dengan adanya Allah semua akan sia-sia.
Ketika kita sedang berjuang,kita pasti pernah merasakan jatuh dan itu sangat sakit sekali. Tapi ingat satu hal,Allah akan selalu bersama umatnya yang tidak pernah menyerah. Karena kegagalan bukan akhir dari segalanya tapi menyerahlah yang membuat segalanya berakhir. 
Dalam hidup kita jangan pernah berhenti berjuang,walaupun kita tidak mudah untuk menggapai apa yang kita perjuangkan tapi kita harus tetap bangkit dan bangkit. Percayalah suatu saat nanti ketika kita sudah berada dititik yang paling tinggi semuanya akan indah. Allah tidak pernah menjanjikan kebahagiaan tanpa perjuangan,karena indahnya pelangi itu setelah turunnya hujan. Maka dari itu aku selalu berfikir bahwa hidup itu adalah perjuangan yang emmpunyai berbagai macam cerita.