Selasa, 15 Desember 2015

aku tak ada arti (lagi)

Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 01.00 malam. Seharusnya didetik sekarang aku sudah tertidur pulas yang ditemani oleh mimpi. Tapi kenyataan malam ini tak sama seperti malam sebelumnya. Malam ini tak seindah malam yang lalu. Dan diwaktu yang sekarang ini aku hanya ditemani tetesan ribu air mata yang tiada arti.

Gelombang-gelombang yang selalu membawa kita tenggelam,tadi datang lagi. Ia mencoba memusnahkan kita. Entah sekarang ini kita sudah berada diarusnya atau belum,akupun masih bingung. Yang jelas,aku disini masih ingin bertahan hidup melawan arus itu bersamamu.

Jam 11malam tadi kau datang kerumahku dengan membawa segala amarahmu dan kekecewaanmu. Kukira kamu mendatangi rumahku malam malam ingin membangkitkan ku,tapi kau malah ingin menjatuhkanku lebih dalam. Dengan kondisi tubuhku yang sedang tidak fit,kau datang malah lebih menyakiti.

Celotehanmu yang seperti duri itu menusukku lagi. Tapi aku tak tau,itu akan membekas menjadi luka atau justru menjadi sesal karena telah membuat luka. Air berkali kali diusahakan untuk dibendung tapi tak terbendung juga. Semakin tajam celotehanmu,air mata ini malah semakin gak karuan. Bibir yang membungkam seakan tak sanggup mengeluarkan satu kata,tetapi hati selalu bicara. Sebodoh ini kah aku? Selemah ini kah aku? Yang selau menjelaskan kata demi kata dalam hati sehingga sulit untuk dimengerti.

Air mata selalu saja mengalir,makin deras dan semakin deras. Tapi bagimu seakan air mata ini adalah tipuan belaka yang sengaja kukeluarkan demi mencari perhatianmu. Air mata ini sudah tidak ada arti dimatamu,padahal disetiap butirannya selalu ada tentangmu. Tapi tetap beribu kali mencoba tak menangis dihadapanmu malah beribu kali juga cairan itu mudah mengalir,karena kamu adalah kelemahanku.

Detik demi detik berlalu. Dan aku belum terlelap juga. Kau yang tadi begitu nekat pulang kerumah tanpa kendaraan dengan jarak sangat jauh dari rumahku. Berkali kali aku mencegahmu tapi kau begitu keras kepala. Saat kau melangkah perlahan dari pintu rumahku,rasa sesal,perih,sakit,khawatir,kecewa semua menjadi rata. Hingga aku benci pada diriku yang telah membiarkanmu meawan rasa kesal yang menyatu dalam kedinginan. Kulihat dari pintu lama kelamaan kau mengihilang meninggakan jejak. Lalu aku bergegas mengambil jacket dan kunci motor untuk menyusulmu membawamu kembali. Tapi lagi lagi kau menghiraukan usahaku. Coba bayangkan,tengah malam gadis sepertiku berkeliaran sendirian untu mengejar lelaki yang amat dicintainya. Jika sudah tak cinta,untuk apa gadis ini rela dirinya terdayung oleh angin malam,padahal kondisinya sedang tak memungkinkan. Ia hanya untuk mengejarmu,mengajak kau kembali. Tapi tetap saja semua tak ada arti. Kau malah menyuruhku kembali tanpa hasil. Kau tega membiarkanku kembali sendiri dipertengahan malam tanpa pelindung. Kemudian tangis,sesal,kecewa dan khawatir tersamarkan dengan biasan angin yang begitu kencang. Hingga angin itu membawa ku pulang dengan tubuh yang tergoyah karena tak ada lagi penegaknya.

Hingg sekarang sudah pukul 1.45 malam,dan aku tak tau kau ada dimana. Apakah kau sudah sampai istana mu? Aku akan menunggu jawabmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar