Di luar hujan deras, kemana kau akan pergi?” Begitu pertanyaaan yang aku lontarkan bersamaan dengan langkahmu menuju pintu. Di depan pintu aku berhasil meraih tanganmu. Kau sedikit berontak sebelum akhirnya terdiam, membiarkanku menahanmu.
“Tinggallah disini dulu, jika tak bisa selamanya setidaknya sampai hujan reda” Begitu pintaku yang kau sambut dengan palingan wajahmu.
“Aku mengkhawatirkanmu Tuan, hujan begitu deras di luar sana, walau kau bisa bertahan dari dinginnya, dari terpaan angin yang kencang itu? Tapi aku tak bisa pungkiri untuk tetap mengkhawatirkanmu”.
Hujan menjadi lebih deras, membuat nada gaduh yang mengharuskanku sedikit berteriak.
“Dlarr!!” Tiba-tiba petir menyambar, kau berteriak kaget lalu berangsur menuju pelukanku. Kau tahu, petir barusan adalah suruhanku, agar kau mau tinggal disini, menemaniku.
Aku memelukmu erat, mencoba membawamu kembali masuk lewat pintu kau keluar tadi. Namun kau menolak, melepaskan diri dari pelukanku. “Mengapa? Kau sudah tak suka dengan semua milikku? Coba cepat katakan, apa yang paling kau suka selama ini disini, kopi panas? Teh? Biskuit? Atau apapun, coba katakan, duduklah yang nyaman di dalam, aku akan menyiapkannya untukmu. Ku mohon, tetaplah tinggal disini. Semua terasa kosong tanpa kau disini”
Kau masih diam sejuta bahasa, menatapku dengan tatapan marah yang menakutkan.
Aku takut, terdiam dan melepas tanganmu. “Baiklah, mungkin semua kefakiranku ini tak cocok untuk dirimu yang mendamba kesempurnaan” Aku masuk ke dalam, mengambil sebuah payung lalu ku berikan padamu. “Ini ambillah, aku tak bisa memaksamu berada disini, mungkin keadaan disini menjemukanmu, terimakasih sudah bersedia mampir di tempat kumuhku ini, jika suatu hari kau butuh naungan lagi, aku siap menyambutmu kapanpun” Kau menerima payungku, membukanya, bersiap untuk menerobos hujan. Aku hanya mampu melihatmu, berjalan menjauhiku. Aku harus bertarung dengan rasa khawatir, sesal dan sedih yang menghantam hatiku.
“Dlarr!!” Petir kembali menggelegar, menahan langkahmu. Kau kembali masuk, menutup payungmu dan duduk dengan penuh kekesalan diatas sofaku. “Kopi” begitu pintamu tanpa mempedulikanku sedikitpun. Aku ke belakang, membuatkanmu kopi kesukaanmu. Siapa bilang petir selalu membawa sial? Lihatlah, dua kali aku bisa menahanmu karena petir itu datang, begitu batinku.
Setelah kopi seduhanku selesai, aku hidangkan di hadapanmu. Kau menyesapnya perlahan, aku yakin kau menikmatinya seperti biasa.
“Mungkin aku akan tinggal disini sampai hujan reda, seperti pintamu” kau mulai membuka pembicaraan. Aku bahagia bukan kepalang, aku ambil kudapan di kulkas dan ku taruh diatas meja. Aku bingung kata apa yang akan kuucap, akhirnya aku hanya membiarkan hujan memenuhi obrolan ku dengan harapan ia tak akan pernah reda.
“Ingat, jangan berharap lebih.. aku hanya disini sampai hujan reda” kau menegaskan lagi. Aku tersenyum.
“Iyya, silahkan..”
Beberapa saat kemudian, kita terlibat obrolan seru seputar kebahagiaan kita di masa sebelumnya. Hingga tak terasa hujan sudah reda. Aku ingin mengingatkanmu, namun kuurungkan. Aku ingin kau lebih lama lagi disini.
“Ah sudah reda” tiba-tiba kau sadar akan hujan yang sudah reda.
“Habiskan dulu kopimu” cegahku, menahanmu.
“Baiklah..” akhirnya kita terlibat obrolan lagi. Hingga gerimis tiba-tiba turun. Kau sadar dan bergegas keluar.
“Ah, kau.. menahanku terlalu lama sampai hujan turun lagi!” Kali ini kau kesal dan marah padaku. Aku selalu takut jika menghadapi situasi seperti ini. Aku ambilkan payung yang kau tinggal di dalam, lalu kuberikan lagi padamu.
“Silahkan pergi, mumpung hujannya belum terlalu deras” Kau mengambil payung itu dariku, begitu kasar seakan merebutnya. Kau membukanya dan pergi meninggalkan aku yang mulai meneteskan hujan di mataku sendiri.
Di seberang jalan, tiba-tiba ada seseorang berbaju biru. Sepertinya seorang disebrang sana sedang menunggumu. Kau berjalan menuju kearah dia,wanita yang sangat asing dimataku sambil kau membuang payung pemberianku.
“Dlarr!!” Senyum perempuan asing itu yang seakan memamerkan kesempurnaanya sambil beriringan dengan petir yang tepat menyambar rumahku hingga rubuh dan terbakar.
Aku hanya berdiri diatas puing-puing rumahku, menatapmu dengan tatapan nanar penuh sesal, sedih, cemburu, dan pilu. Aku bingung, jika suatu saat kau kembali untuk berteduh lagi, apa yang bisa kutawarkan? Rumah yang penuh ketulusan dan kesetiaanku, yang kubangun dan kudesain senyaman mungkin untukmu telah rubuh. Aku terdiam mematung, membiarkan tangisku hanyut bersama rintik hujan yang mulai deras.
Kau tahu, rumah ini adalah hatiku.
Terinspirasi dari: topengekspresi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar