Rabu, 16 Desember 2015

hujan

Matahari telah terbit. Cepat sekali waktu menunjukan bahwa sudah pagi. Namun tidurku kali ini belum puas,masih ada yang tersisa butiran air hujan bekas semalam di sudut mata.
Segala kejadian yang semalam masih membekas,dan masih pekat pada ingatan. Ingin ku kembali pada tidurku,karena ketika aku tertidur segala luka menjadi hilang terbawa mimpi.

Saat aku melihat luar dari kaca jendela,ternyata cuaca tak secerah yang ku harapkan. Aku bergegas keluar. Tanpa memandang cuaca,aku siap untuk melangkah yang ditemani oleh rintikan-rintikan hujan. Tak ada pelindung,tak ada penampung,tak ada tempat bernaung. Aku beranjak hanya memakai jacket yang hangatnya tak seberapa dibanding kehangatan pelukanmu. Langkah demi laangkah ku lampaui,dengan keadaan yang begitu menggil,berharap rintikan-rintikan ini tak berubah menjadi deras.

Dipertengahan perjalanan dan disela sela rintikan hujan,ingatanku kembali tentangmu. Begitu perih bila diusik kembali dan mungkin akan terlihat busuk bila dikupas terlalu dalam. Aku hanya bisa berdoa pada-Nya meminta yang terbaik. Sejujurnya aku lelah lagi lagi harus menanam luka. Jika kau bertanya,luka ini berasal darimana? Aku tak kan pernah tau jawabannya,karena hubunga ini begitu membingungkan. Tingkah kau yang layaknya raja selalu membuatku merasa seperti budak yang tiada arti. Ingin sekali aku keluar dari permainan yang terlalu konyol ini,tapi disisi lain hati berkata "ini hanya rintangan,bukan kah setiap permainan selalu ada rintangan? Dan yang bisa melewatinya,akan menjadi pemenang". Aku ingin sekali kita menang melawan segala macam rintangan,aku ingin kita jadi juara dan membuktikan bahwa kita mampu. Tapi lagilagi aku terjatuh,untuk mencapai kemenangan.

Tanpa disadari rintikan hujan tadi ditemani oleh rintikan hujan dimata ini. Tapi setidaknya ribuan orang yang berlalu lalang tak tau bahwa ada 2hujan disini. Mereka hanya tau hujan rintik diluar,karena hujan dimataku telah tersamarkan. Ingin  sekali rasanya aku berteriak disela hujan ini dan meluapkan seluruh amarahku.

Ketika aku sampai pada tujuan,aku menghentikan langkahku. Berharap kau menyapaku meelalui pesan singkatmu seperti biasanya,menanyakan bagaimanana keadaanku. Tapi kali ini tidak,ketika ku sampai aku hanya termenung seperti orang bisu. Berharap kau akan menenangkanku,tapi harapanku tersingkirkan oleh ribuan rintikan hujan diluar sana.

Harus kemana aku berlari kali ini? Harus kemana aku mencari tempat peneduh? Harus kemana aku mencari kehangatan? Sedangkan sedari tadi aku masih terdiam membisu yang ditemani dingin bekas hujan tadi. Hujan diluar saat ini sudah berhenti,tetapi hujan dimata ini susah sekali untuk dihentikan. Entah siapa yang akan menghentikan hujan dimata ini,apa kah kau masih bersedia? Atau kau telah merelakanku menghentikann hujan dimata ini sendiri seperti sebatang kayu tanpa akar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar