Minggu, 08 November 2015

janjimu,mengecewakan.

Dengan siapa aku harus bercerita malam ini? Dengan siapa aku harus mengadu tentang masalah yang ada? Dengan siapa aku harus mencurahkan isi hati ketika hati ini sedang gak karuan? Dengan siapa aku harus bersandar ketika diri ini sudah lelah untuk menghadapinya? Dengan siapa aku harus mencari pelukan ketika aku sedang butuh ketenangan? Dan siapa yang akan menghentikan hujan di mata ini? Siapa?

Kamu,tempatku segalanya sekarang berubah. Kini aku hanya bisa mencurahkan semuanya disini. Dengan rangkaian kata seadanya dan ditemani iringan musik yang kudengar lewat headset,ku harap kamu membacanya dan paham tentang apa yang kurasakan karena ulahmu.
Selalu saja,lagi lagi kubercerita tentang kesedihan. Apa ini yang selalu kurasakan?sebenarnya ku bahagia memilikimu,tapi kenapa lagilagi kau membiarkan wanita bodohmu ini merasakan tangisnya sendiri? Kau hobi sekali membuat mata ini hujan tanpa ada tanggung jawabmu. Apa malam ini kamu tak ada niat untuk mencerahkanya? Apa kamu belum puas membuat wanita bodohmu ini selalu menjerit?

masalah tadi pagi yang sebenarnya sepele malah menjadi tak berujung. Dan sampai akhirnya aku sendiri yang harus mengemis maaf karena kesalahanmu. Aku memang wanita bodohmu,tapi aku mempunyai hati yang sangat mudah untuk dipatahkan ketika sesorang yang disayanginya malah mengecewakan. Aku lemah,ya aku sangat lemah oleh cinta.
Seharian perdebatan kita tak kunjung selesai. Egomu lagilagi membuat hati ini rapuh. Sikapmu yang seakan tak mau kalah membuatku jera. Apa ini yang kau mau? Apa ini yang membuatmu bahagia? Aku terima sayang,kebahagiaanmu kebahagiaanku juga.

Malam ini aku masih merasakan kekecewaan. Mataku masih mengeluarkan rintikan hujan.
Sadarlah,semua ini karena ulahmu. Janji yang tak bisa kau tepati membuatku sangat kecewa. Aku punya hati,bukan untuk dibuat terbang lalu dijatuhi berkali kali. Jangan mengucapkan janji jika sekiranya tidak bisa ditepati. Jangan selalu mengeluarkan kata manis jika nantinya akan menyakiti.
Amarahku tak kan membuatmu berusaha untuk menetralkan keadaan. Justru sikapmu malah membuat semuanya makin runyam. Bahkan sampai detik ini kau tak berusaha untuk membuatku tersenyum lagi. Selalu saja kau merampas senyumku. Selalu saja aku yang berjuang sendiri untuk mengubah keadaan.

Hatimu beku. Susah sekali untuk dicairkan. Entah kau menganggapku ada atau tidak. Atau aku hanya dijadikan wanita sesaat? Entahlah,aku yakin kau tak kan seperti itu.
Usahaku sedari sore tadi tak ada artinya. Kemarahanmu karena kesalahanmu membuat hatimu sangat beku. Dengan cara apalagi aku harus meluluhkannmu?
Apa kau memikirkan perasaanku? Apa kau memikirkan kondisiku? Apa kau memikirkan hatiku? Asal kau tau,semuanya menjadi buruk. Tapi apa kau peduli? Ku meneteskan air mata saja kau takan menghapusnya lagi. Hatiku menjerit saja kau tak kan menenangkan lagi. Kau tak ada disini,padahal detik ini aku sangat membutuhkanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar