Aku sangat membenci tragedi malam ini. Suasana yang sebelumnya baik baik saja menjadi hancur berantakan. Hati yang sebelumnya berbunga bunga menjadi layu seketika.
Ada apa denganmu? Yang membuat wanita yang katanya kau sayangi ini sebelumnya tertawa lepas berubah menjadi meneteskan air mata? Apa kau tega merampas tawanya begitu saja?
Perbincangan kita lewat telephone tadi ternyata berakhir cukup tragis. Ya tragis.
Bukan ini yang aku inginkan ketika aku sengaja untuk menelfon mu. Hanyasaja niatku ingin canda tawa denganmu. Menceritakan hal hal konyol bersamamu. Dimanja olehmu. Tapi kecerahan yang ku berikan justru dibalas dengan air hujan.
Ini bukan salahmu. Jelas,disini sangat jelas. Ini salahku. Aku sadar akan hal itu.
Dimatamu,aku hanyalah wanita yang masih saja seperti anak balita. Yang selalu ingin bercanda,main main boneka,menceritakan lelucon yang sama sekali kau tak menyukai ceritaku. Yang selalu saja mengulangi kesalahan yang sama ketika berulang ulang kali dinasehati. Aku salah.
Maaf sayang,wanitamu ini amat bodoh. Amat menjengkelkan. Keras seperti batu.
Maaf,wanitamu ini belum jadi seperti apa yang kamu impikan. Wanitamu ini tidak sesempurna seperti wanitamu sebelumnya. Maaf sayang, wanitamu ini belum bisa membuat kau bahagia. Wanitamu ini belum bisa membuat kau bangga memilikinya. Akan tetapi wanitamu ini sangat bangga,sangat bahagia,dan merasa menjadi wanita paling beruntung memilikimu.
Mungkin kamu amat bosan,dan malas sekali mendengar ucapan kata maaf yang beribu ribu kali ku keluarkan. Hanya itu yang bisa ku katakan didepanmu.
Aku terdiam bukan berarti aku acuh. Aku tak ingin apa yang dipermasalahkan menjadi panjang dan tak berujung. Tapi dimatamu sikapku salah,seakan aku bosan mendengarkan nasehatmu. Ketika aku berbicara dan balas perkataanmu,sikapku juga tetap salah dimatamu. Seakan aku membela diri dan menentangmu. Aku selalu salah,dan kau menang,kau selalu menang.
Desahan nafas malam ini begitu cepat. Sesuatu yang didalam dada ini rasanya begitu sangat sakit. Seperti habis loncat dari atas gunung menuju jurang. Cairan bening dimata ini tak kunjung henti. Aku benci keadaan seperti ini. Aku benci ketika esok bangun tidur mataku menjadi sembab. Dan aku tau sekarang kau sedang merasakan hal yang sama sepertiku. Hatimu menjerit. Kita merasakan perasaan yang sama.
Ketika didepanmu aku terdiam,tetapi hatiku berbicara. Ingin sekali rasanya memelukmu erat erat seakan aku melarangmu untuk pergi. Aku takut,aku sangat takut kau pergi meninggalkan wanita yang katanya sangat disayangi ini krn insiden tadi.
Tolong,hargai perubahanku. Kau yang membawaku untuk menjadi yang lebih baik.
Kau yang memintaku untuk menjadi yang kau impikan. Kau yang mengajariku arti kedewasaan. Kau yang membimbingku akan segala hal. Dan jika aku belum bisa jadi apa yang kau mau,tolong tetap paksa aku dan terus latih aku tanpa ada kata lelah. Itu hanya masalah waktu saja. Akupun ingin membahagiakanmu seperti kau yang terus berusaha untuk membahagiakanku. Tapi aku mohon,jangan sudutkan aku diatas kesalahanku.
Boneka pemberianmu kupeluk erat malam ini. Dan aku merasakan sosokmu berada dipelukanku.
Lalu sekarang bagaimana aku mengembalikan kecerahan? Sedangkan mataku sudah terguyur hujan yang sangat deras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar