Apa yang gue pikirin saat ini bener bener ketakutan yang nyata. Gue bingung,gue takut akan banyak hal tentang cinta. Bahkan gue takut sama hubungan yang lagi gue jalanin ini untuk kedepannya. Ya memang,gue tau semua ini bakalan jadi penghambat,tapi apa yang gue rasain sekarang ini random banget. Rasa sedih,takut,bahagia semua nyatu.
Sebenernya sih pikiran gue memang sedikit berlebihan,tapi semua ini karena curhatan temen-temen gue tentang hubungan mereka. Dan seketika gue juga inget sama pengalaman hubungan gue dimasalalu yang cukup jijik buat gue beberkan lagi. Kenapa gue bilang jijik? Karena mereka yang dulunya berjanji buat tetep disini akhirnya pergi juga, meninggalkan sejuta luka dan ngebawa kesalahannya sendiri tanpa tau diri. Dan sejujurnya gue udah gak mau inget lagi sama kisah yang dulu,tapi kali ini semuanya nyangkut diotak gue dan akhirnya malah jadi rasa takut yang luar biasa.
Mereka yang dulunya pernah sayang sama gue,ngejaga gue,tapi akhirnya mereka pergi semaunya tanpa mikir gimana kondisi gue nantinya. Gue yang daridulu coba setia,gue yang dari dulu coba keep stay sama satu cowok,tapi apa yang gue lakuin gak pernah dibales dengan keseimbangan. Mereka ngebales dengan api,sedangkan gue disini selalu jadi air yang berusaha buat memadamkan. Sekejam ini kah cinta? Apa ini deskripsi cinta sebenarnya?
Banyak pengalaman disekeliling gue,bahkan dihidup gue sendiri. Hubungan yang beranjak udah 1 atau 2 tahun bisa runtuh gitu aja dengan alasan bosen/jenuh,yang menyebabkan orang ketiga itu gampang masuk. Sebenernya rasa bosen/jenuh bukan berarti kita harus mengakhiri hubungan yang udah dibangun selama bertahun-tahun itu kan?atau malah selingkuh buat cari suasana baru. Itu nyakitin banget.
Dan semua itu hal yang bego banget yang lagi gue pikirin sekarang.
Semakin berjalan hubungan gue yang sekarang,badai semakin deras. Gue takut,semakin bertambahnya usia hubungan ini,peluang perpisahan malah semakin besar. Gue takut banget,dan kali ini gue udah percaya dan yakin sama satu sosok yang gak akan pergi buat ninggalin luka lagi. Gue gak mau kehilangan sosoknya sampai kapanpun.
Gue gak tau gimana nanti kedepannya,gimana nanti saat hubungan ini mulai beranjak setahun dua tahun. Apakah kisahnya bakalan sama dengan kisah sebelumnya? Gue takut tiba-tiba rasa bosen/jenuh hadir diantara kita.
Dengan kegelisahan ini,dengan pikiran yang berantakan ini,cuma satu yang gue maksud. Gue sayang sama pasangan gue yang sekarang,gue sayang sama hubungan ini,gue takut suatu saat nanti dia yang janjinya sama dengan mereka yang katanya bakalan tetap disini tapi pergi juga ninggalin luka. Gue gak mau,gue bener gak mau kisah ini sama dengan kisah gue dimasalalu. Semoga kita bisa ngelawan rasa bosen/jenuh itu dengan cara yang terbaik.
Percayalah,cinta sejati akan tetap disini. Jika ia pergi,ia akan tau kemana ia harus pulang.
Minggu, 20 Desember 2015
Rabu, 16 Desember 2015
hujan
Matahari telah terbit. Cepat sekali waktu menunjukan bahwa sudah pagi. Namun tidurku kali ini belum puas,masih ada yang tersisa butiran air hujan bekas semalam di sudut mata.
Segala kejadian yang semalam masih membekas,dan masih pekat pada ingatan. Ingin ku kembali pada tidurku,karena ketika aku tertidur segala luka menjadi hilang terbawa mimpi.
Saat aku melihat luar dari kaca jendela,ternyata cuaca tak secerah yang ku harapkan. Aku bergegas keluar. Tanpa memandang cuaca,aku siap untuk melangkah yang ditemani oleh rintikan-rintikan hujan. Tak ada pelindung,tak ada penampung,tak ada tempat bernaung. Aku beranjak hanya memakai jacket yang hangatnya tak seberapa dibanding kehangatan pelukanmu. Langkah demi laangkah ku lampaui,dengan keadaan yang begitu menggil,berharap rintikan-rintikan ini tak berubah menjadi deras.
Dipertengahan perjalanan dan disela sela rintikan hujan,ingatanku kembali tentangmu. Begitu perih bila diusik kembali dan mungkin akan terlihat busuk bila dikupas terlalu dalam. Aku hanya bisa berdoa pada-Nya meminta yang terbaik. Sejujurnya aku lelah lagi lagi harus menanam luka. Jika kau bertanya,luka ini berasal darimana? Aku tak kan pernah tau jawabannya,karena hubunga ini begitu membingungkan. Tingkah kau yang layaknya raja selalu membuatku merasa seperti budak yang tiada arti. Ingin sekali aku keluar dari permainan yang terlalu konyol ini,tapi disisi lain hati berkata "ini hanya rintangan,bukan kah setiap permainan selalu ada rintangan? Dan yang bisa melewatinya,akan menjadi pemenang". Aku ingin sekali kita menang melawan segala macam rintangan,aku ingin kita jadi juara dan membuktikan bahwa kita mampu. Tapi lagilagi aku terjatuh,untuk mencapai kemenangan.
Tanpa disadari rintikan hujan tadi ditemani oleh rintikan hujan dimata ini. Tapi setidaknya ribuan orang yang berlalu lalang tak tau bahwa ada 2hujan disini. Mereka hanya tau hujan rintik diluar,karena hujan dimataku telah tersamarkan. Ingin sekali rasanya aku berteriak disela hujan ini dan meluapkan seluruh amarahku.
Ketika aku sampai pada tujuan,aku menghentikan langkahku. Berharap kau menyapaku meelalui pesan singkatmu seperti biasanya,menanyakan bagaimanana keadaanku. Tapi kali ini tidak,ketika ku sampai aku hanya termenung seperti orang bisu. Berharap kau akan menenangkanku,tapi harapanku tersingkirkan oleh ribuan rintikan hujan diluar sana.
Harus kemana aku berlari kali ini? Harus kemana aku mencari tempat peneduh? Harus kemana aku mencari kehangatan? Sedangkan sedari tadi aku masih terdiam membisu yang ditemani dingin bekas hujan tadi. Hujan diluar saat ini sudah berhenti,tetapi hujan dimata ini susah sekali untuk dihentikan. Entah siapa yang akan menghentikan hujan dimata ini,apa kah kau masih bersedia? Atau kau telah merelakanku menghentikann hujan dimata ini sendiri seperti sebatang kayu tanpa akar.
Segala kejadian yang semalam masih membekas,dan masih pekat pada ingatan. Ingin ku kembali pada tidurku,karena ketika aku tertidur segala luka menjadi hilang terbawa mimpi.
Saat aku melihat luar dari kaca jendela,ternyata cuaca tak secerah yang ku harapkan. Aku bergegas keluar. Tanpa memandang cuaca,aku siap untuk melangkah yang ditemani oleh rintikan-rintikan hujan. Tak ada pelindung,tak ada penampung,tak ada tempat bernaung. Aku beranjak hanya memakai jacket yang hangatnya tak seberapa dibanding kehangatan pelukanmu. Langkah demi laangkah ku lampaui,dengan keadaan yang begitu menggil,berharap rintikan-rintikan ini tak berubah menjadi deras.
Dipertengahan perjalanan dan disela sela rintikan hujan,ingatanku kembali tentangmu. Begitu perih bila diusik kembali dan mungkin akan terlihat busuk bila dikupas terlalu dalam. Aku hanya bisa berdoa pada-Nya meminta yang terbaik. Sejujurnya aku lelah lagi lagi harus menanam luka. Jika kau bertanya,luka ini berasal darimana? Aku tak kan pernah tau jawabannya,karena hubunga ini begitu membingungkan. Tingkah kau yang layaknya raja selalu membuatku merasa seperti budak yang tiada arti. Ingin sekali aku keluar dari permainan yang terlalu konyol ini,tapi disisi lain hati berkata "ini hanya rintangan,bukan kah setiap permainan selalu ada rintangan? Dan yang bisa melewatinya,akan menjadi pemenang". Aku ingin sekali kita menang melawan segala macam rintangan,aku ingin kita jadi juara dan membuktikan bahwa kita mampu. Tapi lagilagi aku terjatuh,untuk mencapai kemenangan.
Tanpa disadari rintikan hujan tadi ditemani oleh rintikan hujan dimata ini. Tapi setidaknya ribuan orang yang berlalu lalang tak tau bahwa ada 2hujan disini. Mereka hanya tau hujan rintik diluar,karena hujan dimataku telah tersamarkan. Ingin sekali rasanya aku berteriak disela hujan ini dan meluapkan seluruh amarahku.
Ketika aku sampai pada tujuan,aku menghentikan langkahku. Berharap kau menyapaku meelalui pesan singkatmu seperti biasanya,menanyakan bagaimanana keadaanku. Tapi kali ini tidak,ketika ku sampai aku hanya termenung seperti orang bisu. Berharap kau akan menenangkanku,tapi harapanku tersingkirkan oleh ribuan rintikan hujan diluar sana.
Harus kemana aku berlari kali ini? Harus kemana aku mencari tempat peneduh? Harus kemana aku mencari kehangatan? Sedangkan sedari tadi aku masih terdiam membisu yang ditemani dingin bekas hujan tadi. Hujan diluar saat ini sudah berhenti,tetapi hujan dimata ini susah sekali untuk dihentikan. Entah siapa yang akan menghentikan hujan dimata ini,apa kah kau masih bersedia? Atau kau telah merelakanku menghentikann hujan dimata ini sendiri seperti sebatang kayu tanpa akar.
Selasa, 15 Desember 2015
aku tak ada arti (lagi)
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 01.00 malam. Seharusnya didetik sekarang aku sudah tertidur pulas yang ditemani oleh mimpi. Tapi kenyataan malam ini tak sama seperti malam sebelumnya. Malam ini tak seindah malam yang lalu. Dan diwaktu yang sekarang ini aku hanya ditemani tetesan ribu air mata yang tiada arti.
Gelombang-gelombang yang selalu membawa kita tenggelam,tadi datang lagi. Ia mencoba memusnahkan kita. Entah sekarang ini kita sudah berada diarusnya atau belum,akupun masih bingung. Yang jelas,aku disini masih ingin bertahan hidup melawan arus itu bersamamu.
Jam 11malam tadi kau datang kerumahku dengan membawa segala amarahmu dan kekecewaanmu. Kukira kamu mendatangi rumahku malam malam ingin membangkitkan ku,tapi kau malah ingin menjatuhkanku lebih dalam. Dengan kondisi tubuhku yang sedang tidak fit,kau datang malah lebih menyakiti.
Celotehanmu yang seperti duri itu menusukku lagi. Tapi aku tak tau,itu akan membekas menjadi luka atau justru menjadi sesal karena telah membuat luka. Air berkali kali diusahakan untuk dibendung tapi tak terbendung juga. Semakin tajam celotehanmu,air mata ini malah semakin gak karuan. Bibir yang membungkam seakan tak sanggup mengeluarkan satu kata,tetapi hati selalu bicara. Sebodoh ini kah aku? Selemah ini kah aku? Yang selau menjelaskan kata demi kata dalam hati sehingga sulit untuk dimengerti.
Air mata selalu saja mengalir,makin deras dan semakin deras. Tapi bagimu seakan air mata ini adalah tipuan belaka yang sengaja kukeluarkan demi mencari perhatianmu. Air mata ini sudah tidak ada arti dimatamu,padahal disetiap butirannya selalu ada tentangmu. Tapi tetap beribu kali mencoba tak menangis dihadapanmu malah beribu kali juga cairan itu mudah mengalir,karena kamu adalah kelemahanku.
Detik demi detik berlalu. Dan aku belum terlelap juga. Kau yang tadi begitu nekat pulang kerumah tanpa kendaraan dengan jarak sangat jauh dari rumahku. Berkali kali aku mencegahmu tapi kau begitu keras kepala. Saat kau melangkah perlahan dari pintu rumahku,rasa sesal,perih,sakit,khawatir,kecewa semua menjadi rata. Hingga aku benci pada diriku yang telah membiarkanmu meawan rasa kesal yang menyatu dalam kedinginan. Kulihat dari pintu lama kelamaan kau mengihilang meninggakan jejak. Lalu aku bergegas mengambil jacket dan kunci motor untuk menyusulmu membawamu kembali. Tapi lagi lagi kau menghiraukan usahaku. Coba bayangkan,tengah malam gadis sepertiku berkeliaran sendirian untu mengejar lelaki yang amat dicintainya. Jika sudah tak cinta,untuk apa gadis ini rela dirinya terdayung oleh angin malam,padahal kondisinya sedang tak memungkinkan. Ia hanya untuk mengejarmu,mengajak kau kembali. Tapi tetap saja semua tak ada arti. Kau malah menyuruhku kembali tanpa hasil. Kau tega membiarkanku kembali sendiri dipertengahan malam tanpa pelindung. Kemudian tangis,sesal,kecewa dan khawatir tersamarkan dengan biasan angin yang begitu kencang. Hingga angin itu membawa ku pulang dengan tubuh yang tergoyah karena tak ada lagi penegaknya.
Hingg sekarang sudah pukul 1.45 malam,dan aku tak tau kau ada dimana. Apakah kau sudah sampai istana mu? Aku akan menunggu jawabmu.
Gelombang-gelombang yang selalu membawa kita tenggelam,tadi datang lagi. Ia mencoba memusnahkan kita. Entah sekarang ini kita sudah berada diarusnya atau belum,akupun masih bingung. Yang jelas,aku disini masih ingin bertahan hidup melawan arus itu bersamamu.
Jam 11malam tadi kau datang kerumahku dengan membawa segala amarahmu dan kekecewaanmu. Kukira kamu mendatangi rumahku malam malam ingin membangkitkan ku,tapi kau malah ingin menjatuhkanku lebih dalam. Dengan kondisi tubuhku yang sedang tidak fit,kau datang malah lebih menyakiti.
Celotehanmu yang seperti duri itu menusukku lagi. Tapi aku tak tau,itu akan membekas menjadi luka atau justru menjadi sesal karena telah membuat luka. Air berkali kali diusahakan untuk dibendung tapi tak terbendung juga. Semakin tajam celotehanmu,air mata ini malah semakin gak karuan. Bibir yang membungkam seakan tak sanggup mengeluarkan satu kata,tetapi hati selalu bicara. Sebodoh ini kah aku? Selemah ini kah aku? Yang selau menjelaskan kata demi kata dalam hati sehingga sulit untuk dimengerti.
Air mata selalu saja mengalir,makin deras dan semakin deras. Tapi bagimu seakan air mata ini adalah tipuan belaka yang sengaja kukeluarkan demi mencari perhatianmu. Air mata ini sudah tidak ada arti dimatamu,padahal disetiap butirannya selalu ada tentangmu. Tapi tetap beribu kali mencoba tak menangis dihadapanmu malah beribu kali juga cairan itu mudah mengalir,karena kamu adalah kelemahanku.
Detik demi detik berlalu. Dan aku belum terlelap juga. Kau yang tadi begitu nekat pulang kerumah tanpa kendaraan dengan jarak sangat jauh dari rumahku. Berkali kali aku mencegahmu tapi kau begitu keras kepala. Saat kau melangkah perlahan dari pintu rumahku,rasa sesal,perih,sakit,khawatir,kecewa semua menjadi rata. Hingga aku benci pada diriku yang telah membiarkanmu meawan rasa kesal yang menyatu dalam kedinginan. Kulihat dari pintu lama kelamaan kau mengihilang meninggakan jejak. Lalu aku bergegas mengambil jacket dan kunci motor untuk menyusulmu membawamu kembali. Tapi lagi lagi kau menghiraukan usahaku. Coba bayangkan,tengah malam gadis sepertiku berkeliaran sendirian untu mengejar lelaki yang amat dicintainya. Jika sudah tak cinta,untuk apa gadis ini rela dirinya terdayung oleh angin malam,padahal kondisinya sedang tak memungkinkan. Ia hanya untuk mengejarmu,mengajak kau kembali. Tapi tetap saja semua tak ada arti. Kau malah menyuruhku kembali tanpa hasil. Kau tega membiarkanku kembali sendiri dipertengahan malam tanpa pelindung. Kemudian tangis,sesal,kecewa dan khawatir tersamarkan dengan biasan angin yang begitu kencang. Hingga angin itu membawa ku pulang dengan tubuh yang tergoyah karena tak ada lagi penegaknya.
Hingg sekarang sudah pukul 1.45 malam,dan aku tak tau kau ada dimana. Apakah kau sudah sampai istana mu? Aku akan menunggu jawabmu.
Kamis, 10 Desember 2015
Jangan pergi
Di luar hujan deras, kemana kau akan pergi?” Begitu pertanyaaan yang aku lontarkan bersamaan dengan langkahmu menuju pintu. Di depan pintu aku berhasil meraih tanganmu. Kau sedikit berontak sebelum akhirnya terdiam, membiarkanku menahanmu.
“Tinggallah disini dulu, jika tak bisa selamanya setidaknya sampai hujan reda” Begitu pintaku yang kau sambut dengan palingan wajahmu.
“Aku mengkhawatirkanmu Tuan, hujan begitu deras di luar sana, walau kau bisa bertahan dari dinginnya, dari terpaan angin yang kencang itu? Tapi aku tak bisa pungkiri untuk tetap mengkhawatirkanmu”.
Hujan menjadi lebih deras, membuat nada gaduh yang mengharuskanku sedikit berteriak.
“Dlarr!!” Tiba-tiba petir menyambar, kau berteriak kaget lalu berangsur menuju pelukanku. Kau tahu, petir barusan adalah suruhanku, agar kau mau tinggal disini, menemaniku.
Aku memelukmu erat, mencoba membawamu kembali masuk lewat pintu kau keluar tadi. Namun kau menolak, melepaskan diri dari pelukanku. “Mengapa? Kau sudah tak suka dengan semua milikku? Coba cepat katakan, apa yang paling kau suka selama ini disini, kopi panas? Teh? Biskuit? Atau apapun, coba katakan, duduklah yang nyaman di dalam, aku akan menyiapkannya untukmu. Ku mohon, tetaplah tinggal disini. Semua terasa kosong tanpa kau disini”
Kau masih diam sejuta bahasa, menatapku dengan tatapan marah yang menakutkan.
Aku takut, terdiam dan melepas tanganmu. “Baiklah, mungkin semua kefakiranku ini tak cocok untuk dirimu yang mendamba kesempurnaan” Aku masuk ke dalam, mengambil sebuah payung lalu ku berikan padamu. “Ini ambillah, aku tak bisa memaksamu berada disini, mungkin keadaan disini menjemukanmu, terimakasih sudah bersedia mampir di tempat kumuhku ini, jika suatu hari kau butuh naungan lagi, aku siap menyambutmu kapanpun” Kau menerima payungku, membukanya, bersiap untuk menerobos hujan. Aku hanya mampu melihatmu, berjalan menjauhiku. Aku harus bertarung dengan rasa khawatir, sesal dan sedih yang menghantam hatiku.
“Dlarr!!” Petir kembali menggelegar, menahan langkahmu. Kau kembali masuk, menutup payungmu dan duduk dengan penuh kekesalan diatas sofaku. “Kopi” begitu pintamu tanpa mempedulikanku sedikitpun. Aku ke belakang, membuatkanmu kopi kesukaanmu. Siapa bilang petir selalu membawa sial? Lihatlah, dua kali aku bisa menahanmu karena petir itu datang, begitu batinku.
Setelah kopi seduhanku selesai, aku hidangkan di hadapanmu. Kau menyesapnya perlahan, aku yakin kau menikmatinya seperti biasa.
“Mungkin aku akan tinggal disini sampai hujan reda, seperti pintamu” kau mulai membuka pembicaraan. Aku bahagia bukan kepalang, aku ambil kudapan di kulkas dan ku taruh diatas meja. Aku bingung kata apa yang akan kuucap, akhirnya aku hanya membiarkan hujan memenuhi obrolan ku dengan harapan ia tak akan pernah reda.
“Ingat, jangan berharap lebih.. aku hanya disini sampai hujan reda” kau menegaskan lagi. Aku tersenyum.
“Iyya, silahkan..”
Beberapa saat kemudian, kita terlibat obrolan seru seputar kebahagiaan kita di masa sebelumnya. Hingga tak terasa hujan sudah reda. Aku ingin mengingatkanmu, namun kuurungkan. Aku ingin kau lebih lama lagi disini.
“Ah sudah reda” tiba-tiba kau sadar akan hujan yang sudah reda.
“Habiskan dulu kopimu” cegahku, menahanmu.
“Baiklah..” akhirnya kita terlibat obrolan lagi. Hingga gerimis tiba-tiba turun. Kau sadar dan bergegas keluar.
“Ah, kau.. menahanku terlalu lama sampai hujan turun lagi!” Kali ini kau kesal dan marah padaku. Aku selalu takut jika menghadapi situasi seperti ini. Aku ambilkan payung yang kau tinggal di dalam, lalu kuberikan lagi padamu.
“Silahkan pergi, mumpung hujannya belum terlalu deras” Kau mengambil payung itu dariku, begitu kasar seakan merebutnya. Kau membukanya dan pergi meninggalkan aku yang mulai meneteskan hujan di mataku sendiri.
Di seberang jalan, tiba-tiba ada seseorang berbaju biru. Sepertinya seorang disebrang sana sedang menunggumu. Kau berjalan menuju kearah dia,wanita yang sangat asing dimataku sambil kau membuang payung pemberianku.
“Dlarr!!” Senyum perempuan asing itu yang seakan memamerkan kesempurnaanya sambil beriringan dengan petir yang tepat menyambar rumahku hingga rubuh dan terbakar.
Aku hanya berdiri diatas puing-puing rumahku, menatapmu dengan tatapan nanar penuh sesal, sedih, cemburu, dan pilu. Aku bingung, jika suatu saat kau kembali untuk berteduh lagi, apa yang bisa kutawarkan? Rumah yang penuh ketulusan dan kesetiaanku, yang kubangun dan kudesain senyaman mungkin untukmu telah rubuh. Aku terdiam mematung, membiarkan tangisku hanyut bersama rintik hujan yang mulai deras.
Kau tahu, rumah ini adalah hatiku.
Terinspirasi dari: topengekspresi
“Tinggallah disini dulu, jika tak bisa selamanya setidaknya sampai hujan reda” Begitu pintaku yang kau sambut dengan palingan wajahmu.
“Aku mengkhawatirkanmu Tuan, hujan begitu deras di luar sana, walau kau bisa bertahan dari dinginnya, dari terpaan angin yang kencang itu? Tapi aku tak bisa pungkiri untuk tetap mengkhawatirkanmu”.
Hujan menjadi lebih deras, membuat nada gaduh yang mengharuskanku sedikit berteriak.
“Dlarr!!” Tiba-tiba petir menyambar, kau berteriak kaget lalu berangsur menuju pelukanku. Kau tahu, petir barusan adalah suruhanku, agar kau mau tinggal disini, menemaniku.
Aku memelukmu erat, mencoba membawamu kembali masuk lewat pintu kau keluar tadi. Namun kau menolak, melepaskan diri dari pelukanku. “Mengapa? Kau sudah tak suka dengan semua milikku? Coba cepat katakan, apa yang paling kau suka selama ini disini, kopi panas? Teh? Biskuit? Atau apapun, coba katakan, duduklah yang nyaman di dalam, aku akan menyiapkannya untukmu. Ku mohon, tetaplah tinggal disini. Semua terasa kosong tanpa kau disini”
Kau masih diam sejuta bahasa, menatapku dengan tatapan marah yang menakutkan.
Aku takut, terdiam dan melepas tanganmu. “Baiklah, mungkin semua kefakiranku ini tak cocok untuk dirimu yang mendamba kesempurnaan” Aku masuk ke dalam, mengambil sebuah payung lalu ku berikan padamu. “Ini ambillah, aku tak bisa memaksamu berada disini, mungkin keadaan disini menjemukanmu, terimakasih sudah bersedia mampir di tempat kumuhku ini, jika suatu hari kau butuh naungan lagi, aku siap menyambutmu kapanpun” Kau menerima payungku, membukanya, bersiap untuk menerobos hujan. Aku hanya mampu melihatmu, berjalan menjauhiku. Aku harus bertarung dengan rasa khawatir, sesal dan sedih yang menghantam hatiku.
“Dlarr!!” Petir kembali menggelegar, menahan langkahmu. Kau kembali masuk, menutup payungmu dan duduk dengan penuh kekesalan diatas sofaku. “Kopi” begitu pintamu tanpa mempedulikanku sedikitpun. Aku ke belakang, membuatkanmu kopi kesukaanmu. Siapa bilang petir selalu membawa sial? Lihatlah, dua kali aku bisa menahanmu karena petir itu datang, begitu batinku.
Setelah kopi seduhanku selesai, aku hidangkan di hadapanmu. Kau menyesapnya perlahan, aku yakin kau menikmatinya seperti biasa.
“Mungkin aku akan tinggal disini sampai hujan reda, seperti pintamu” kau mulai membuka pembicaraan. Aku bahagia bukan kepalang, aku ambil kudapan di kulkas dan ku taruh diatas meja. Aku bingung kata apa yang akan kuucap, akhirnya aku hanya membiarkan hujan memenuhi obrolan ku dengan harapan ia tak akan pernah reda.
“Ingat, jangan berharap lebih.. aku hanya disini sampai hujan reda” kau menegaskan lagi. Aku tersenyum.
“Iyya, silahkan..”
Beberapa saat kemudian, kita terlibat obrolan seru seputar kebahagiaan kita di masa sebelumnya. Hingga tak terasa hujan sudah reda. Aku ingin mengingatkanmu, namun kuurungkan. Aku ingin kau lebih lama lagi disini.
“Ah sudah reda” tiba-tiba kau sadar akan hujan yang sudah reda.
“Habiskan dulu kopimu” cegahku, menahanmu.
“Baiklah..” akhirnya kita terlibat obrolan lagi. Hingga gerimis tiba-tiba turun. Kau sadar dan bergegas keluar.
“Ah, kau.. menahanku terlalu lama sampai hujan turun lagi!” Kali ini kau kesal dan marah padaku. Aku selalu takut jika menghadapi situasi seperti ini. Aku ambilkan payung yang kau tinggal di dalam, lalu kuberikan lagi padamu.
“Silahkan pergi, mumpung hujannya belum terlalu deras” Kau mengambil payung itu dariku, begitu kasar seakan merebutnya. Kau membukanya dan pergi meninggalkan aku yang mulai meneteskan hujan di mataku sendiri.
Di seberang jalan, tiba-tiba ada seseorang berbaju biru. Sepertinya seorang disebrang sana sedang menunggumu. Kau berjalan menuju kearah dia,wanita yang sangat asing dimataku sambil kau membuang payung pemberianku.
“Dlarr!!” Senyum perempuan asing itu yang seakan memamerkan kesempurnaanya sambil beriringan dengan petir yang tepat menyambar rumahku hingga rubuh dan terbakar.
Aku hanya berdiri diatas puing-puing rumahku, menatapmu dengan tatapan nanar penuh sesal, sedih, cemburu, dan pilu. Aku bingung, jika suatu saat kau kembali untuk berteduh lagi, apa yang bisa kutawarkan? Rumah yang penuh ketulusan dan kesetiaanku, yang kubangun dan kudesain senyaman mungkin untukmu telah rubuh. Aku terdiam mematung, membiarkan tangisku hanyut bersama rintik hujan yang mulai deras.
Kau tahu, rumah ini adalah hatiku.
Terinspirasi dari: topengekspresi
Rabu, 09 Desember 2015
wanita biasa yang mencintai dengan sederhana
Aku tidaklah seperti mereka yang bisa merangkai kata dengan indahnya. Membuatkanmu puisi dengan kata kata yang istimewa. Lalu,membacanya dengan suara yang merdu sehingga memanjakan telinga.Aku hanyalah wanita biasa yang bisa mencintaimu dengan sederhana.
Aku tidaklah seperti mereka yang bisa berjanji mencintaimu selamanya,berkata akan selalu ada disaat kau butuh,lalu menyombongkan itu semua pada dunia. Sekali lagi;aku hanyalah wanita biasa yang bisa mencintaimu dengan sederhana.
Aku tidaklah seperti mereka,aku hanya mampu mencintaimu begini saja. Aku tidak bisa menjanjikan apa apa,tidak bisa memberikanmu hal hal yang istimewa. Tapi ketahuilah,aku selalu berusaha agar ku mampu melakukan itu semua.
Sebenarnya apa yang sedang kau baca ini,hanyalah rasa didada yang tertuang lewat kata kata sederhana yang disusun sedemikian rupa,dan kumpulan kalimat yang bisa dirangkai apa adanya. Apa yang sedang kau hayati ini,hanyalah coretan yang bukan apa apa dari orang yang bukan siapa siapa.
Aku hanyalah wanita biasa yang hanya bisa mencintaimu dengan sederhana,tak bisa didefinisikan dengan kata,tanda baca,apalagi angka,bukan sebagai apa,siapa,atau apapun itu namanya.
Ya,aku hanyalah wanita biasa. Jadi,izinkan aku untuk mencintaimu dengan sederhana :)
Aku tidaklah seperti mereka yang bisa berjanji mencintaimu selamanya,berkata akan selalu ada disaat kau butuh,lalu menyombongkan itu semua pada dunia. Sekali lagi;aku hanyalah wanita biasa yang bisa mencintaimu dengan sederhana.
Aku tidaklah seperti mereka,aku hanya mampu mencintaimu begini saja. Aku tidak bisa menjanjikan apa apa,tidak bisa memberikanmu hal hal yang istimewa. Tapi ketahuilah,aku selalu berusaha agar ku mampu melakukan itu semua.
Sebenarnya apa yang sedang kau baca ini,hanyalah rasa didada yang tertuang lewat kata kata sederhana yang disusun sedemikian rupa,dan kumpulan kalimat yang bisa dirangkai apa adanya. Apa yang sedang kau hayati ini,hanyalah coretan yang bukan apa apa dari orang yang bukan siapa siapa.
Aku hanyalah wanita biasa yang hanya bisa mencintaimu dengan sederhana,tak bisa didefinisikan dengan kata,tanda baca,apalagi angka,bukan sebagai apa,siapa,atau apapun itu namanya.
Ya,aku hanyalah wanita biasa. Jadi,izinkan aku untuk mencintaimu dengan sederhana :)
Minggu, 06 Desember 2015
kegalapan
Kegelapan yang ditemani rintikan hujan sedari sore tadi membuat suasana terlihat kurang lengkap. Seketika berdiam diri melihat kesegala arah yang berwarna hitam pekat dengan tubuh yang setengah mengigil. Sepertinya ku butuh penerangan dan kehangatan malam ini.
Banyak bayangan yang tiba tiba menghampiri didalam kegelapan ini. Yang lagilagi membuatku takut. Ingin sekali rasanya ku menjerit meluapkan segala yang kutakuti,karena malam ini jeritanku akan tersamarkan oleh suara hujan diluar sana.
Entah mengapa akhir akhir ini aku menjadi wanita pengecut yang selalu takut akan segala hal. Apa mungkin banyak rasa trauma yang pernah kualami? Kurasa kata kata itu terlalu berlebihan-.
5jam sudah aku berada dalam kegelapan ini sendirian. Hujan sudah berhenti,tapi kegelapan masih setia menemani. Seperti kamu yang masih menemaniku dalam kurun waktu 5 bulan ini. Bedanya,bersamamu warna tidak lagi hitam. Banyak sekali kecerahan saat ku coba melangkah bersamamu. Tapi rasa takut itu pun juga masih setia menemaniku. Entah kenapa lagi lagi aku menjadi wanita yang amat pengecut,bukan lagi menjadi wanita berani seperti dulu kala. Dulu,aku selalu berani dalam situasi apapun,aku berani dengan resiko apapun. Semenjak bersamamu,rasa takut itu mulai menggilai. Aku takut kau melepaskan pelukanmu,takut kau melepaskan gandengamu,takut kau menghentikan langkahmu bersamaku,takut kau membiarkan ku sendiri tanpa sosokmu,aku sangat takut untuk kehilanganmu. Tapi yang lebih ku takuti,aku takut untuk menimbun luka lagi. Lelah rasanya,harus berpapasan lagi dengan luka dan air mata.
Banyak luka yang ditimbun disini dari mereka orang yang tak bertanggung jawab. Hingga ku benci akan hal tentang cinta. Sekian lama aku berdiri sendiri berusaha menyembuhkan lukaku yang dulu. Nyatanya berdiri sendiri tanpa seseorang,luka ini tidak akan sembuh.
Tapi rencana Tuhan indah sekali. 5bulan yang lalu,Ia mengirimkan sosok pria gagah dan sangat gentle yang ditunjukkan untuk menyembuhkan luka ini. Dan kali ini aku menemui arti cinta yan baru. Aku merasakan cinta yang berbeda. Apa ini rasa yang katanya menemui cinta sejati? Entahlah,semoga saja. Perjalanan kita pun masih panjang dan kaupun akan ku jadikan pemberhentian terakhir.
Tapi kali ini kumohon,jangan lagi lagi kau menimbun luka baru. Jangan lagilagi kau memanggil rintikan hujan dimata ini. Ketika kepecayaan sudah ku beri sepenuhnya padamu,tolong jaga kepercayaan itu. Meskipun sudah banyak sekali liku-liku yang kita lewati,kuharap kita mampu melewatinya. Disaat aku mulai merasa lelah dengan likuliku itu,kumohon tarik aku ajak aku melewatinya lagi bersamamu. Kalaupun nantinya kita sudah sama sama tak sanggup,aku percaya dan aku yakin kekuatan cinta yang besar akanmelawan semua gegelombang. Cinta tau kemana ia harus pulang.
Banyak bayangan yang tiba tiba menghampiri didalam kegelapan ini. Yang lagilagi membuatku takut. Ingin sekali rasanya ku menjerit meluapkan segala yang kutakuti,karena malam ini jeritanku akan tersamarkan oleh suara hujan diluar sana.
Entah mengapa akhir akhir ini aku menjadi wanita pengecut yang selalu takut akan segala hal. Apa mungkin banyak rasa trauma yang pernah kualami? Kurasa kata kata itu terlalu berlebihan-.
5jam sudah aku berada dalam kegelapan ini sendirian. Hujan sudah berhenti,tapi kegelapan masih setia menemani. Seperti kamu yang masih menemaniku dalam kurun waktu 5 bulan ini. Bedanya,bersamamu warna tidak lagi hitam. Banyak sekali kecerahan saat ku coba melangkah bersamamu. Tapi rasa takut itu pun juga masih setia menemaniku. Entah kenapa lagi lagi aku menjadi wanita yang amat pengecut,bukan lagi menjadi wanita berani seperti dulu kala. Dulu,aku selalu berani dalam situasi apapun,aku berani dengan resiko apapun. Semenjak bersamamu,rasa takut itu mulai menggilai. Aku takut kau melepaskan pelukanmu,takut kau melepaskan gandengamu,takut kau menghentikan langkahmu bersamaku,takut kau membiarkan ku sendiri tanpa sosokmu,aku sangat takut untuk kehilanganmu. Tapi yang lebih ku takuti,aku takut untuk menimbun luka lagi. Lelah rasanya,harus berpapasan lagi dengan luka dan air mata.
Banyak luka yang ditimbun disini dari mereka orang yang tak bertanggung jawab. Hingga ku benci akan hal tentang cinta. Sekian lama aku berdiri sendiri berusaha menyembuhkan lukaku yang dulu. Nyatanya berdiri sendiri tanpa seseorang,luka ini tidak akan sembuh.
Tapi rencana Tuhan indah sekali. 5bulan yang lalu,Ia mengirimkan sosok pria gagah dan sangat gentle yang ditunjukkan untuk menyembuhkan luka ini. Dan kali ini aku menemui arti cinta yan baru. Aku merasakan cinta yang berbeda. Apa ini rasa yang katanya menemui cinta sejati? Entahlah,semoga saja. Perjalanan kita pun masih panjang dan kaupun akan ku jadikan pemberhentian terakhir.
Tapi kali ini kumohon,jangan lagi lagi kau menimbun luka baru. Jangan lagilagi kau memanggil rintikan hujan dimata ini. Ketika kepecayaan sudah ku beri sepenuhnya padamu,tolong jaga kepercayaan itu. Meskipun sudah banyak sekali liku-liku yang kita lewati,kuharap kita mampu melewatinya. Disaat aku mulai merasa lelah dengan likuliku itu,kumohon tarik aku ajak aku melewatinya lagi bersamamu. Kalaupun nantinya kita sudah sama sama tak sanggup,aku percaya dan aku yakin kekuatan cinta yang besar akanmelawan semua gegelombang. Cinta tau kemana ia harus pulang.
Jumat, 04 Desember 2015
mencintai,sekecil ujung kuku
Sudah banyak sekali bait kata yang terlontarkan disini. Yang kenyataanya dari setiap kata selalu tertuju padamu. Kamu selalu menjadi peran utama ,dan aku hanya mendapatkan peran figuran yang terkadang tak selalu dipandang.
Mereka hanya tau aku yang selalu memancing masalah. Tapi apa mereka tau umpannya berasal darimana? Mereka hanya bisa membaca isi judul satu persatu dan Mereka hanya memahami kalimat demi kalimat,tanpa mereka mengetahui real nya seperti apa.
Entah itu kata kata apalagi yang kubuat. Sebenarnya aku malu jika harus bertutur kata tentang kesedihan,lagilagi kegalauan. Seakan bersamamu tak ada kebahagiaan yang terbuat. Padahal,aku bahagia memilikimu. Hanyasaja banyak sekali arus deras yang taktau datangnya darimana yang selalu mencoba merenggut kebahagiaan itu.
Tapi faktanya,bertutur kata tentang kebahagiaan tak semudah bertutur kata tentang kesedihan. Banyak ribuan bahagia yang tak terungkap disini.
Malam ini masih seperti biasanya. Mendengarkan music melalui headset dan seketika banyak kata-kata terlintas yang harus kulontarkan disini,agar tidak bergejolak didalam dada.
Mungkin seharian ini kamu masih bertanya tanya mengapa aku seperti ini. Mengapa aku menjadi wanita kaku seperti baru mengenalmu. Menjadi wanita pendiam tidak seperti biasanya. Aku juga heran mengapa aku seperti ini. Tenang,aku tidak bermain api disini. Aku hanya mengikuti alur isi hatiku saja.
Semenjak kejadian kemarin,isi hati ini selalu mengarahkanku untuk bersikap seadanya dan bertingkah sewajarnya. Lalu,apa maksud dari semua itu? Terkadang aku masih bertanya tanya apa mau hati ini. Hati yang selama limabulan ini kau ikat,sekarang ia memberontak. Apa kau mengikatnya terlalu kencang sehingga ikatanmu menggoreskan luka? Dan sepertinya ia harus mengambil tindakan agar tetap utuh dan tak lagi rapuh.
Sejujurnya tak ada niatku untuk melukaimu. Bukan maksudku untuk menjauhimu. Tapi,aku cuma tak mau menjadi bebanmu lagi. Aku tidak akan lagi menjadi wanitamu yang manja dan rewel seperti biasanya. Tak kan lagi menjadi wanita yang selalu mengemis untuk diperhatikan. Karena aku tau kesibukanmu.
Aku belajar untuk mengerti keadaan,aku belajar untuk mencintai sewajarnya. Mencintaimu sekecil ujung kuku,walaupun sudah dipotong berkali kali akan tetap tumbuh.
Karena mencintai berlebihan pun akan selalu menimbulkan bencana. Seperti kerinduan yang selalu menghantui. Gara gara rindu kemarin ada goretan luka lagi dihati. Tapi tak apa,ia akan segera sembuh.
Banyak kejadian yang harus dijadikan pembelajaran. Mulai sekarang aku banyak belajar,termasuk belajar melawan rindu yang katanya ia sangat jahat sekali.
Rinduku akan terdamaikan secepatnya,karena aku sadar bahwa kita sangat dekat dan selalu dekat. Setiap malam kita tertidur dibawah langit yang sama. Lalu rindu itu akan musnah dengan sendirinya jika aku sudah berfikir seperti itu.
Semua yang kulakukan mungkin masih tidak terbiasa. Tapi suatu saat hal ini akan menjadi biasa. Kita akan sama sama terbiasa menjalaninya.
Kurasa aku telah didoktrin sama sesuatu yang berada didalam dada ini. Mau tidak mau aku harus mengikutinya,mungkin ini maksud yang terbaik.
Karena entah aku menjadi takut untuk mengenal cinta terlalu dalam. Takut ada luka baru lagi yang tega membasahi hati ini. Tapi aku percaya semua ini tak kan terjadi lagi. Aku percaya kamu akan melindungi hatiku seperti kamu melindungi hati ibumu.
Mereka hanya tau aku yang selalu memancing masalah. Tapi apa mereka tau umpannya berasal darimana? Mereka hanya bisa membaca isi judul satu persatu dan Mereka hanya memahami kalimat demi kalimat,tanpa mereka mengetahui real nya seperti apa.
Entah itu kata kata apalagi yang kubuat. Sebenarnya aku malu jika harus bertutur kata tentang kesedihan,lagilagi kegalauan. Seakan bersamamu tak ada kebahagiaan yang terbuat. Padahal,aku bahagia memilikimu. Hanyasaja banyak sekali arus deras yang taktau datangnya darimana yang selalu mencoba merenggut kebahagiaan itu.
Tapi faktanya,bertutur kata tentang kebahagiaan tak semudah bertutur kata tentang kesedihan. Banyak ribuan bahagia yang tak terungkap disini.
Malam ini masih seperti biasanya. Mendengarkan music melalui headset dan seketika banyak kata-kata terlintas yang harus kulontarkan disini,agar tidak bergejolak didalam dada.
Mungkin seharian ini kamu masih bertanya tanya mengapa aku seperti ini. Mengapa aku menjadi wanita kaku seperti baru mengenalmu. Menjadi wanita pendiam tidak seperti biasanya. Aku juga heran mengapa aku seperti ini. Tenang,aku tidak bermain api disini. Aku hanya mengikuti alur isi hatiku saja.
Semenjak kejadian kemarin,isi hati ini selalu mengarahkanku untuk bersikap seadanya dan bertingkah sewajarnya. Lalu,apa maksud dari semua itu? Terkadang aku masih bertanya tanya apa mau hati ini. Hati yang selama limabulan ini kau ikat,sekarang ia memberontak. Apa kau mengikatnya terlalu kencang sehingga ikatanmu menggoreskan luka? Dan sepertinya ia harus mengambil tindakan agar tetap utuh dan tak lagi rapuh.
Sejujurnya tak ada niatku untuk melukaimu. Bukan maksudku untuk menjauhimu. Tapi,aku cuma tak mau menjadi bebanmu lagi. Aku tidak akan lagi menjadi wanitamu yang manja dan rewel seperti biasanya. Tak kan lagi menjadi wanita yang selalu mengemis untuk diperhatikan. Karena aku tau kesibukanmu.
Aku belajar untuk mengerti keadaan,aku belajar untuk mencintai sewajarnya. Mencintaimu sekecil ujung kuku,walaupun sudah dipotong berkali kali akan tetap tumbuh.
Karena mencintai berlebihan pun akan selalu menimbulkan bencana. Seperti kerinduan yang selalu menghantui. Gara gara rindu kemarin ada goretan luka lagi dihati. Tapi tak apa,ia akan segera sembuh.
Banyak kejadian yang harus dijadikan pembelajaran. Mulai sekarang aku banyak belajar,termasuk belajar melawan rindu yang katanya ia sangat jahat sekali.
Rinduku akan terdamaikan secepatnya,karena aku sadar bahwa kita sangat dekat dan selalu dekat. Setiap malam kita tertidur dibawah langit yang sama. Lalu rindu itu akan musnah dengan sendirinya jika aku sudah berfikir seperti itu.
Semua yang kulakukan mungkin masih tidak terbiasa. Tapi suatu saat hal ini akan menjadi biasa. Kita akan sama sama terbiasa menjalaninya.
Kurasa aku telah didoktrin sama sesuatu yang berada didalam dada ini. Mau tidak mau aku harus mengikutinya,mungkin ini maksud yang terbaik.
Karena entah aku menjadi takut untuk mengenal cinta terlalu dalam. Takut ada luka baru lagi yang tega membasahi hati ini. Tapi aku percaya semua ini tak kan terjadi lagi. Aku percaya kamu akan melindungi hatiku seperti kamu melindungi hati ibumu.
Rabu, 02 Desember 2015
Rindu
Rindu. Kata itu yang sekarang sangat ku benci. Kata itu seakan monster yang amat menyeramkan. Ketika ia sudah menghantui entah aku harus berucap apa lagi. Semua rasa menjadi satu. Takut,sedih,sakit,amarah,kecewa semua berada diwadah yang sama.
Kenapa didunia ini harus ada istilah kata rindu? Yang jelas jelas ia sangat jahat sekali. Ia tega merampas senyum seseorang dan menggantikannya dengan air mata. Dan aku baru menyadari bahwa rindu itu adalah penyebab masalah terjadi.
Saat ini aku berdiam diri ditemani oleh rindu. Rasa yang selalu saja mengikuti langkahku kemanapun aku pergi. Aku sendiri disini,tanpa gandenganmu dan tanpa pelukanmu.
Entah mengapa lagilagi aku merasakan seperti ini,padahal dulu saat diawal kamu tidak pernah membuatku sekacau ini karena kerinduan. Tapi tiga minggu belakangan ini,kau selalu saja membuatku mencaci diriku sendiri.
Apa maumu?
Apa saat ini aku lagi diajarkan agar aku terbiasa tanpamu?
Apa kelak kau akan menjadikanku sama seperti wanita mu yang dulu,yang selalu menahan rindu dalam diam?
Atau sudah ada wanita lain yang bisa lebih membahagiakanmu,mengerti kondisimu dibanding aku?
Atau..........ah sudahlah pertanyaan yang sangat bodoh untuk dipertanyakan.
Aneh sekali rasanya jika aku sudah merasakan seperti ini. Kau tau sendiri,bagaimana tingkahku ketika rindu mulai menggerogoti. Selalu menjadi wanita tolol yang tak tau arah.
Selalu mencari masalah untuk diperhatikan. Selalu saja wanita manja ini membuatmu jengkel karena ulahnya. Selalu dan selalu membuat kekacauan. Tapi semua itu karena rindu. Ia jahat sekali sayang.
Bantu aku untuk memusnahkannya dan bantu aku untuk membuatnya tak kembali lagi. Aku lelah jika harus berurusan dengan rindu.
Sebenarnya aku memaklumi kesibukanmu. Aku sadar bahwa kau bukanlah orang sipil biasa. Seharusnya aku melihat ayah dan kakakku yang kesibukannya sama sepertimu. Ya aku memaklumi aktivitas aparat seperti kalian yang waktunya kurang lebih untuk negara.
Tetapi,semua fikiranku kalah dengan rindu,ini menyakitkan-.
Yang biasanya perjumpaan kita dua hari sekali,sekarang ini menjadi seminggu sekali.
Dengan belum keterbiasaan ini,menjadikan rasa sakit yang luar biasa. Mungkin aku terlalu seperti bocah yang tak pernah mengertikan keadaanmu,tapi sekali lagi kubilang,-aku belum terbiasa.
Bagaimana jika aku kehilanganmu? Bagaimana jika nanti kau tak disampingku lagi? Rindu level berapa lagi yang akan ku rasakan?
Masih berada dalam pelukanmu saja rindu ini sudah menjadi monster,bagaimana rindu saatku tak berada dipelukanmu lagi? Tak terbayangkan.
Kenapa didunia ini harus ada istilah kata rindu? Yang jelas jelas ia sangat jahat sekali. Ia tega merampas senyum seseorang dan menggantikannya dengan air mata. Dan aku baru menyadari bahwa rindu itu adalah penyebab masalah terjadi.
Saat ini aku berdiam diri ditemani oleh rindu. Rasa yang selalu saja mengikuti langkahku kemanapun aku pergi. Aku sendiri disini,tanpa gandenganmu dan tanpa pelukanmu.
Entah mengapa lagilagi aku merasakan seperti ini,padahal dulu saat diawal kamu tidak pernah membuatku sekacau ini karena kerinduan. Tapi tiga minggu belakangan ini,kau selalu saja membuatku mencaci diriku sendiri.
Apa maumu?
Apa saat ini aku lagi diajarkan agar aku terbiasa tanpamu?
Apa kelak kau akan menjadikanku sama seperti wanita mu yang dulu,yang selalu menahan rindu dalam diam?
Atau sudah ada wanita lain yang bisa lebih membahagiakanmu,mengerti kondisimu dibanding aku?
Atau..........ah sudahlah pertanyaan yang sangat bodoh untuk dipertanyakan.
Aneh sekali rasanya jika aku sudah merasakan seperti ini. Kau tau sendiri,bagaimana tingkahku ketika rindu mulai menggerogoti. Selalu menjadi wanita tolol yang tak tau arah.
Selalu mencari masalah untuk diperhatikan. Selalu saja wanita manja ini membuatmu jengkel karena ulahnya. Selalu dan selalu membuat kekacauan. Tapi semua itu karena rindu. Ia jahat sekali sayang.
Bantu aku untuk memusnahkannya dan bantu aku untuk membuatnya tak kembali lagi. Aku lelah jika harus berurusan dengan rindu.
Sebenarnya aku memaklumi kesibukanmu. Aku sadar bahwa kau bukanlah orang sipil biasa. Seharusnya aku melihat ayah dan kakakku yang kesibukannya sama sepertimu. Ya aku memaklumi aktivitas aparat seperti kalian yang waktunya kurang lebih untuk negara.
Tetapi,semua fikiranku kalah dengan rindu,ini menyakitkan-.
Yang biasanya perjumpaan kita dua hari sekali,sekarang ini menjadi seminggu sekali.
Dengan belum keterbiasaan ini,menjadikan rasa sakit yang luar biasa. Mungkin aku terlalu seperti bocah yang tak pernah mengertikan keadaanmu,tapi sekali lagi kubilang,-aku belum terbiasa.
Bagaimana jika aku kehilanganmu? Bagaimana jika nanti kau tak disampingku lagi? Rindu level berapa lagi yang akan ku rasakan?
Masih berada dalam pelukanmu saja rindu ini sudah menjadi monster,bagaimana rindu saatku tak berada dipelukanmu lagi? Tak terbayangkan.
Langganan:
Komentar (Atom)