Senin, 26 Oktober 2015

dia,wanitamu yang dulu.

Masalalu. Masalalu itu adalah kenangan. Entah itu indah atau buruk, intinya aku yakin semua orang pasti punya masalalu. Bahkan kamu,bahkan juga aku.

Disini,  dicerita ini entah kenapa aku ingin sekali membahas dia,wanitamu yang dulu.
Bukan bermaksud untuk menyinggung perasaanmu atau perasaanya. Tapi jemariku yang kini diatas keyboard hanyalah mengetik apa yang dikatakan oleh isi hati.
Mungkin hati dan pikiranku selalu bertanya tanya siapa sebenarnya wanita asing itu?
Dia amat asing dimataku. Aku sama sekali tak mengenalnya dan tak megetahui seperti apa wajahnya. Aku hanya mengetahui dia dari berbagai macam sosial media.
Tapi tidak untukmu. Dia tak asing dimatamu,bahkan dihatimu.

Semakin hari rasa penasaran ini semakin besar. Dan terkadang keberanian untuk mencari tau kisahmu dengannya malah semakin menjadi. Walaupun aku sangat tau,ini akan menyakiti diriku sendiri. Aku tak perduli bagaimana kondisi hatiku nanti,karena aku hanya percaya satu hal,jika kamu benar menyayangiku apapun yang terjadi kamu akan tetap berada disini dan tidak pergi menjelajahi yang lain.

Tekatku mulai berjalan. Ketika kulihat diberbagai macam sosial media,dan ketika aku baca cerita cerita diblognya,sepertinya dia masih menyayangimu. Bahkan sebenarnya dia sangat mengaharapkan agar  kamu  datang kembali menyapanya.
Dia ingin sekali melihat sosokmu saat ini. Walaupun lukanya masih membekas,kurasa dia sangatlah merindukanmu.

Lagi lagi blognya kubaca berkali kali. Dalam waktu kurun setahun terakhir ini dia masih menulis tentangmu.
Bohong,  ketika ku baca semua isi diblognya perasaanku biasa aja. Tapi karena kutau gimana perasaan perempuan ketika merindukan mantan kekasih terlamanya. Karena akupun pernah mengalaminya. Kali ini aku tidak ingin egois,dan aku coba untuk mengerti. Karen tujuan awalku bukan untuk mencari masalah.

Isi dari setiap judul kubaca lagi. Kalimat demi kalimat kupahami. Tak tega rasanya melihat hati sosok sepertiku menahan rindu dan sakit yang amat dalam. Apalagi kutau ternyata dialah yang menemani perjuanganmu sehingga kau bisa berseragam coklat seperti sekarang ini. Dan kini dia harus menahan rindu dalam diam,ini luar biasa. Dia perempuan hebat yang pernah kau milikki.

Bintang dilangit mulai muncul lagi. Udara yang begitu sejuk dan segelas cangkir kopi sangatlah pas untuk kita saling bercerita. Dengan awalan candatawa yang akan memulai perbincangan kita masalah ini. Lalu aku berbicara sesuai keadaan. Tarikan nafas yang amat dalam lalu kubuang dengan perlahan membuatku tenang untuk menceritakan semuanya. Dari sorotan matamu aku melihat sekali bahwa kau juga sangat merindunya. Tapi tak masalah. Aku masih bisa tenang untuk melanjutkan perbincangan kita. Sampai akhirnya kau meminta izin untuk menemuinya menjelaskan dan meminta maaf. Lagilagi bagiku ini tidak masalah,karena aku belajar percaya dan yakin bahwa kau  tidak akan menyinggahi yang lain. Apalagi dia adalah wanitamu yang dulu yang mungkin banyak berkorban untukmu ketika kau sedang berjuang. Aku memakluminya.

Mungkin bagimu aku sangat bodoh menceritakan tentang masalalumu. Tapi entah kenapa hati ini tersentuh melihat keadaannya dan merasakan sekali apa yang dirasakannya.
Dari semua yang ku tulis kata demi kata,bukan berarti aku merelakanmu kembali,tidak. Hanyasaja aku mengajarimu sebuah kepercayaan. Aku sangat percaya dan yakin akan segala hal tentangmu. Tolong jangan patahkan semua itu.
Tetap menyapanya,menjalin silaturahmi yang baik agar semua tidak akan menjadi konflik.

Sungguh,cerita ini sangat kotor untuk ku tulis tapi apalah daya yang tidak selamanya bisa memendam isi hati.


Selasa, 20 Oktober 2015

sisa kisah semalam

Rasa perih bekas semalam masih terasa. Ketika aku bangkit dari tempat tidurku,ku kira semuanya sudah biasa saja. Tapi nyatanya semua masih sama. Masih saja menyimpan luka. Ya luka yang mungkin kau fikir karena ulahku sendiri. Tapi apa kau pernah berfikir bahwa luka yang kurasa ini juga karenamu?
Egomu begitu tinggi untuk selalu menyalahkanku. Hingga kau tak pernah sadar akan semua kesalahanmu sendiri. Kau terlalu egois sayang,tapi kau selalu saja yang menganggap aku yang begitu keras kepala.

Aku sampai tak tau harus bagaimana lagi membuatmu paham,membuatmu mengerti perasaanku. Isi hati yang ingin sekali menjerit karena duri yang menusuknya begitu tajam,amat tajam.
Tapi percuma,kau tak akan pernah mengerti. Kau tak akan pernah paham. Kau selalu salahpaham. Dimatamu tetap aku yang salah,egoku yang terlalu tinggi.

 Jemariku gemetar mengetik diatas keyboard. Lagi dan lagi mataku kembali mendung. Ingin sekali aku menahan semua itu. Ingin sekali aku menyembuhkan lukaku sendiri. Tapi tetap,kamu selalu berlari difikiranku. Seakan kau menginginkanku untuk menyalahkan diriku sendiri. Tapi bisakah untuk kali ini kau hargai sedikit saja usahaku? Usahaku yang amat keras untuk menjadi yang kau mau. Menjadi yang lebih baik. Menjadi wanita kuat.
Tapi kamu sendiri yang meruntuhkan kekuatanku. Tiangku sendiri yang membuat diri ini jatuh lagi.

Kali ini aku hanya bisa terdiam,aku hanya bisa menangis dalam hati. Aku tak ingin lagi banyak bicara didepanmu. Tak ingin lagi mengeluarkan setitik air mata dihadapanmu.
Walaupun dimatamu aku terlihat egois mementingkan diriku sendiri tapi kau tak pernah mau melihat usahaku yang membuat semua kembali baik baik saja.
Kutau kamu sudah jera mendengarkan semuanya. Bahkan kamu sudah muak melihat kalimat  demi kalimat yang menjijikan ini. Yang dimatamu seakan aku membela diri.
Semoga kau senang dan kau tenang dengan keadaan yang menyebalkan ini.

selalu salah

Aku sangat membenci tragedi malam ini. Suasana yang sebelumnya baik baik saja menjadi hancur berantakan. Hati yang sebelumnya berbunga bunga menjadi layu seketika.
Ada apa denganmu? Yang membuat wanita yang katanya kau sayangi ini sebelumnya tertawa lepas berubah menjadi meneteskan air mata? Apa kau tega merampas tawanya begitu saja?

Perbincangan kita lewat telephone tadi ternyata berakhir cukup tragis. Ya tragis.
Bukan ini yang aku inginkan ketika aku sengaja untuk menelfon mu. Hanyasaja niatku ingin canda tawa denganmu. Menceritakan hal hal konyol bersamamu. Dimanja olehmu. Tapi kecerahan yang ku berikan justru dibalas dengan air hujan.

Ini bukan salahmu. Jelas,disini sangat jelas. Ini salahku. Aku sadar akan hal itu.
Dimatamu,aku hanyalah wanita yang masih saja seperti anak balita. Yang selalu ingin bercanda,main main boneka,menceritakan lelucon yang sama sekali kau tak menyukai ceritaku. Yang selalu saja mengulangi kesalahan yang sama ketika berulang ulang kali dinasehati. Aku salah.

Maaf sayang,wanitamu ini amat bodoh. Amat menjengkelkan. Keras seperti batu.
Maaf,wanitamu ini belum jadi seperti apa yang kamu impikan. Wanitamu ini tidak sesempurna seperti wanitamu sebelumnya. Maaf sayang, wanitamu ini belum bisa membuat kau bahagia. Wanitamu ini belum bisa membuat kau bangga memilikinya. Akan tetapi wanitamu ini sangat bangga,sangat bahagia,dan merasa menjadi wanita paling beruntung memilikimu.

Mungkin kamu amat bosan,dan malas sekali mendengar ucapan kata maaf yang beribu ribu kali ku keluarkan. Hanya itu yang bisa ku katakan didepanmu.
Aku terdiam bukan berarti aku acuh. Aku tak ingin apa yang dipermasalahkan menjadi panjang dan tak berujung. Tapi dimatamu sikapku salah,seakan aku bosan mendengarkan nasehatmu. Ketika aku berbicara dan balas perkataanmu,sikapku juga tetap salah dimatamu. Seakan aku membela diri dan menentangmu. Aku selalu salah,dan kau menang,kau selalu menang.

Desahan nafas malam ini begitu cepat. Sesuatu yang didalam dada ini rasanya begitu sangat sakit. Seperti habis loncat dari atas gunung menuju jurang. Cairan bening dimata ini tak kunjung henti. Aku benci keadaan seperti ini. Aku benci ketika esok bangun tidur mataku menjadi sembab. Dan aku tau sekarang kau sedang merasakan hal yang sama sepertiku. Hatimu menjerit. Kita merasakan perasaan yang sama.

Ketika didepanmu aku terdiam,tetapi hatiku berbicara. Ingin sekali rasanya memelukmu erat erat seakan aku melarangmu untuk pergi. Aku takut,aku sangat takut kau pergi meninggalkan wanita yang katanya sangat disayangi ini krn insiden tadi.

Tolong,hargai perubahanku. Kau yang membawaku untuk menjadi yang lebih baik.
Kau yang memintaku untuk menjadi yang kau impikan. Kau yang mengajariku arti kedewasaan. Kau yang membimbingku akan segala hal. Dan jika aku belum bisa jadi apa yang kau mau,tolong tetap paksa aku dan terus latih aku tanpa ada kata lelah. Itu hanya masalah waktu saja. Akupun ingin membahagiakanmu seperti kau yang terus berusaha untuk membahagiakanku. Tapi aku mohon,jangan sudutkan aku diatas kesalahanku.

Boneka pemberianmu kupeluk erat malam ini. Dan aku merasakan sosokmu berada dipelukanku.
Lalu sekarang bagaimana aku mengembalikan kecerahan? Sedangkan mataku sudah terguyur hujan yang sangat deras.

Minggu, 18 Oktober 2015

merindukan sosokmu

Kamarku malam ini begitu sepi. Tak ada yang mendengarkan ceritaku,tidak ada yang melihat kekonyolanku. Berbaring ditempat tidur sendiri tanpa ditemani malaikatku seperti biasanya. Ya, sepi,sunyi dan entah mengapa aku merasakan kerinduan yang luar biasa malam ini.

Rindu? Ya aku amat merindukan dikala aku masih kanak-kanak.
Rasanya kebersamaan dengannya yg dulu ingin ku ulangi lagi.
Senyumnya canda tawanya ingin ku lihat lagi dari dirinya tanpa ada beban apapun.

Sungguh,aku ingin merasakan lagi rasanya jalan jalan berdua sepeti dulu.
Berada dipangkuannya ketika aku sedang menangis. Ditimang timang ketika aku sedang sakit.

Kau begitu hebat. Kau begitu kuat. Bahkan diriku tak kan mampu sepertimu.
Ribuan rintangan telah kau lewati dengan lapang dada. Dan sampai detik ini kau masih tetap bertahan,kau masih tetap berusaha untuk bangkit lagi. Aku bangga memilikimu,aku bahagia mempunyai malaikat sepertimu.

Banyak sekali perjuangan yang kau lakukan demi buah hatimu. Bahkan disaat tubuhmu mulai tak berdaya,Kau tak pernah menyerah dan kau tak pernah mengucapkan kata lelah.
Apapun akan kau lakukan demi kebahagiaan buah hatimu tanpa mengharapkan imbalan.

Maafkan putrimu yang tidak bisa menjadi wanita kuat sepertimu.
Yang selalu saja membuatmu kesal akan tingkah lakunya yang konyol.
Tapi Apakau tau? Selama ini hati putrimu menjerit melihat ketidak berdayaanmu.
Perih rasanya melihat sosok malaikat yang melahirkanku berteriak melawan rasa sakitnya.

Terkadang mereka yang tak merasakannya hanya melihat aku adalah buah hatimu yang amat manja. Manja akan segala hal. Mereka tak yakin bahwa aku bisa menjadi wanita mandiri layaknya mereka yang sudah lepas dari bangku sekolah. Yang mereka tau aku hanyalah wanita yang beranjak dewasa yang masih saja berada di himbauanmu.
Mereka tak pernah tau bagaimana aku merindukan sosokmu yang dulu,mereka tak pernah mengerti bagaimana rasanya jadi wanita seumuranku melihat malaikatnya tak berdaya.
Sejujurnya aku ingin sekali merasakan seperti mereka layaknya anak seumuranku tertawa lepas tanpa ada beban apapun. Tapi Tuhan berkata lain,tuhan mengajariku untuk belajar menjadi wanita yang kuat hingga seperti malaikatnya.

Tetap berada disini. Tetap berada disampingku. Dan aku mohon izinkan aku untuk membahagiakanmu. Disetiap waktu yang kupunya selalu terselip namamu dalam doaku.
Tetap menjadi malaikatku yang kuat. Aku percaya dan aku sangat percaya kita bisa seperti dulu lagi.






Cepat sembuh karena aku sangat menyayangimu, ibu.

memilikimu,kebahagiaanku.

Rasanya aku ingin sekali menari diatas awan, melayang mengelilingi dunia yang begitu indah, lalu berteriak bahwa ku sangat bahagia memilikimu. Entah bahagia seperti apa, yang jelas semenjak ada kamu hidup ini berwarna.

Memang, didunia ini selalu saja ada yang lebih baik dari kamu, lebih gagah dari tubuhmu, lebih tampan dari wajahmu,  lebih mapan, bahkan lebih dari segalanya dari apa yang kamu punya. Bahkan sebaliknya sayang, akan ada yang jauh lebih baik dariku. Tapi aku tidak pernah memperdulikan itu semua.

Dan apa kau tau? Semenjak kau hadir, aku memutuskan pencarianku berakhir.
Semenjak itu pula aku menganggap  kau sebagai pemberhentian terakhir.
Walau sebenarnya aku tidak tau dan aku tidak pernah tau bagaimana kedepannya nanti, apakah pilihanku sama dengan pilihan-Nya?

Ya, aku selalu memanjatkan doa dan segala pintaku pada-Nya. Menyebut namamu didalam doaku dan membawamu disetiap langkahku. Sekali lagi, yang aku tau sampai detik ini hanya kau lah pria yang mampu membuatku ingin terus  jatuh lebih dalam lagi. Bukan jatuh karena kesakitan, tapi jatuh menelusuri kasih sayangmu.

Kamu yang membuatku tetap bernafas dari dalamnya lautan, kamu yang membuatku terus tetap berlari dari tajamnya kerikil, kamu yang membuatku terus menaiki tingginya puncak gunung walau sebenarnya tubuh ini sudah lelah.
Kau penyemangatku. Karena sebelum ada kamu, aku tidak setegar ini, ku tidak sekuat ini.

Terimakasih untuk segalanya. Kau begitu sederhana. Dengan segala nasehatmu,dengan segala caramu bahkan dengan gretakanmu yang mampu membuatku seperti ini.
Kesederhanaanmu mampu membuatku menjadi wanita terbahagia.
Terimakasih kau  telah memberiku ruang untuk menjadi bagian dari keluargamu.
Kau memberikanku sesosok ayah,ibu,dan adik-adik yang tentunya aku menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri.

Terimakasih untuk bahagia yang kau beri. Terimakasih masih bersedia memilikiku sampai detik ini bahkan disaat keadaanku sedang berada dititik terlemah. Terimakasih masih memberiku ketenangan disaat hati ini sedang ricuh.

Tidak perduli bagaimana akhirnya nanti, bagiku kaulah semestaku, kaulah pria setelah ayah yang kebahagiannya akan terus kuperjuangkan.
Teruslah menjadi dirimu, begitupun aku.
Aku mencintaimu, terlalu.

Rabu, 14 Oktober 2015

kesalahan lagi

Ketika perjalanan mulai cukup jauh, ketika itu juga kita mulai melewati berbagai rintangan.
Apakah aku harus menyerah karna sebuah rintangan? Sedangkan kita belum sampai pada tujuan.

Perempuan bodohmu ini sangat lemah sayang, jika kau mulai membentaknya.
Amarahmu sungguh membuatku takut, seakan aku ingin bergegas lari dari hadapanmu.

Aku terdiam. Tak ada satu katapun yg berani kulontarkan ketika aku salah.
Aku tak bisa membela diri dengan semua alasan yg ku keluarkan. Kau tetap menang.

Apa kau tau? Kurasa kau sangat tau bahwa dihati ini hanya ada kamu. Kurasa kau sangat merasakan bahwa aku sangat mencintaimu.
Difikiranku tak sepicik yg kau fikir. Aku hanya wanita bodohmu yg selalu kau bilang masih kekanak kanakan. Apa mungkin wanita bodoh sepertiku ingin bermain api dengan pria lain yg belum tentu dia sebaik kamu? Tidak sayang.

Aku hanya bisa terdiam. Aku tak bisa bertutur kata lagi dihadapanmu.
Mataku kembali hujan. Hujan yg sangat kau benci. Dan ketika suasana mulai hening, jemarimu mulai membelai rambutku dan kedua tanganmu yg amat ku rindukan mulai memberikan pelukan. Tak ingin rasanya ini cepat berlalu.

Maaf sayang, hatimu sudah tergores lagi. Lagi dan lagi sikapku membuatmu jengkel.
Entah kau yg terlalu posesif atau aku yg terlalu sibuk dengan kebahagiaanku.
Apapun itu, aku bahagia memilikimu. Kau bukan sekedar pelindung, kau juga membimbing, bahkan bagiku tak ada lagi pria lain sepertimu.

malam ini

Sepi...sunyi...sendiri....
Kamar yang begitu gelap tanpa adanya cahaya lampu dan ditemani dengan iringan musik.
Tubuh yang terlentang diatas kasur dengan selimut yg cukup tebal, kurasa suda cukup sebagai perlengakapan ku malam ini.

Aku sangat menyukai situasi seperti ini ketika hati ini sedang ricuh.
Entah harus bagaimana aku mendeskrepsikan yg aku rasakan malam ini,
Mengetik diatas keyboard pun aku tak sanggup.

Maaf, jika wanita yg kamu sayangi ini menjadi lemah karna hampir terkalahkan oleh ombak ombak yang selalu saja menghampiri.

Kamu tau sayang? Kamu adalah tiang, yang menjadikan wanita bodoh ini berdiri lagi.
Seandainya kamu memberiku satu permintaan, hanya satu yg ku pinta malam ini,
Berada disini dengan pelukan yg erat dan aku janji aku tak kan izinkanmu untuk melepaskan pelukan itu.

Hujan dimata yg sering kamu tatap ini semakin deras, Pipi ini semakin basah krn tersiram olehnya.
Aku tau kamu amat membenci hal itu, tapi malam ini perempuan bodohmu tidak tahan untuk membendungnya lagi.


Iringan musik semakin lembut, lirik liriknyapun semakin menyentuh hati
Suasana yg amat  sepi sendiri dengan keadaan ruangan yg begitu sejuk.
Aku masih belum paham harus menceritakan isi hati ini seperti apalagi.
Kata kata bagaimana lagi yg harus aku beberkan.
Mengeluarkan satu katapun, hati ini sepertinya ingin menjerit.

Maaf sayang wanitamu yg kerdil ini tidak sekokoh wanitamu sebelumnya.
Saat ini aku hanya seperti wanita yg lugu yg hanya ingin membuatmu bahagia memilikiku.
Sungguh, aku tak mengerti kata kata seperti apalagi yg harus aku rangkai supaya kamu paham, bahwa aku sangat menyayangimu dan aku bahagia memilikimu sampe detik ini,aku harap kamu pun begitu.


Terimakasih selalu bertahan,mengalah dan memberi arah sampai detik ini.



Selasa, 13 Oktober 2015

dibalik tubuh gagahmu

Ketika kekosongan melanda berbulan bulan
Ketika kesendirian ini setia menemaniku
Ketika itu juga hati ini sangat takut untuk singgah dihati lelaki yg baru.

Sungguh,aku sangat takut untuk memulai kisah yg baru apalagi denganmu.
Lelaki yang baru kukenal 2hari yang begitu cepatnya memberi rasa nyaman untukku.
Aku tidak percaya. Secepat ini takdir menyatukan kita?

Dan akhirnya ketakutan ku kalah dengan rasa nyaman yg kamu berikan.
Semua bagaikan kilat. Pendekatan kita yg hanya sekejap saja ternyata menjadi indah.
Aku bahagia mengenalmu,sungguh aku merasa menjadi wanita sangat beruntung memilikimu.

Dibalik tubuh gagah dengan seragam coklatmu,kamu  adalah lelaki yg sangat humoris.
Lelucon yg slalu kamu ucapkan untuk membuatku tertawa setiap hari.
Disisi lain aku mencintaimu tanpa suatu alasan.

dan sekarang sudah 92hari aku menemanimu.
Berbagai rintangan kita lewati.
Berbagai macam ombak kita terjang bersama.
Tanpa ada lelah dan terimakasih masih bertahan disini untuk tetap menjadi pelindungku.


Smoga kita bisa menerjang ombak berikutnya bersama,sayang.