Kamis, 21 Januari 2016

Aduan Sesak

Ya,lagi-lagi ku berada didalam suasana yang amat ku suka. Suasana yang begitu sepi,sunyi,dan lagi-lagi aku sendiri disini sembari ditemani oleh alunan-alunan musik yang kudengarkan melalui earphone.

Suasana yang begitu sunyi seperti ini sangat ampuh sekali untuk ku merenungkan diri dalam sesak yang bergejolak. Seakan sesak ku akan membuncah dalam tangis sendu.

Sesak yang jarang sekali ku beberkan pada pemilik hati ini. Jika kau tanya mengapa? Aku pun tak tau. Aku hanya masih terbiasa menyimpan sesak ini dalam diam,meski ku tau semakin lama semakin tertimbun. Seperti hal nya sampah,semakin ditimbun akan semakin berbau,semakin menyengat,dan rasa-rasanya ingin sekali dibakar agar cepat musnah.

Sebenarnya salah satu alasan sesak ku diantara yang lainnya adalah kamu. Sosok pria yang teramat pandai,yang selalu saja pintar menempatkan posisinya. Bahkan kau pria yang terkesan arogan namun sangat mahir sekali membawa diri ini terbang tinggi dengan genggaman hangatmu yang berupa pelukan, sehingga selalu saja membuat ku takut. Ya,aku sangat takut jika secara tiba-tiba kau melepaskan pelukanmu,lalu aku akan terhempas oleh angin dan terjatuh ke dasar bumi.

Ketakutanku ini semakin menggebu. Saat sore akan berganti malam,aku selalu menitipkan doa pada senja agar aku tak kan pernah enyah dari pelukan hangatmu itu. Begitupun ketika Fajar datang,doaku akan tetap sama,supaya nanti kau bisa semakin erat memelukku dan membawaku terbang lebih tinggi hingga tak sanggup melepaskan.


Pria ku,jika kelak kamu membaca aduan sesak ku ini,ku harap kau akan selalu ingat tentang janji-janjimu. Janji yang selalu saja meyakini, bahwa kau akan selalu tetap tinggal.
Semoga Semesta menakdirkan kita untuk menjadi abadi,bukan hanya sekedar.


Setelah mengadukan disini,kurasa sesak ku sedikit berkurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar