Beberapa kali ku mencoba memberanikan diri untuk menulis lagi,bercerita lagi. Tapi berat rasanya untuk membeberkan bait kata yang disetiap baitnya selalu membuat hati ini perih dan dengan mudahnya cairan mata ini menetes.
Entah......
Entah apa ini waktu yang tepat untuk aku menulis lagi? Menulis kisah yang berbeda. Apa aku siap untuk menahan rasa sakit yang sakitnya melebihi dari apapun? apa aku sanggup menceritakan kehidupan baruku tanpa seorang ibu?
Ya,inilah kenyataan yang pahit yang harus ku terima meski sakit dan meski selalu menjerit disetiap harinya. Kenyataan yang benar-benar sulit dipercaya,bahwa begitu cepat aku harus melampaui kehidupan baru tanpa seorang ibu diusia mudaku ini. Siapa sangka? Ulang tahun diumurku yang ke 19 adalah umur terakhir untuk ibuku. Lalu bagaimana nantinya ketika aku beranjak keusia berikutnya?bagaimana nanti ketika aku wisuda dan memakai toga?bagaimana nanti ketika aku duduk dipelaminan bersama lelaki gagah itu layaknya ratu dan raja? Apa ibu tidak ingin menemaniku saat momment yang berkesan itu? Apa ibu tidak ingin menemaniku sampai aku sukses dan mempunyai cucu untuk ibu? Kenapa ibu pergi cepat sekali. Aku belum membahagiakan ibu kan? Aku belum membuat ibu merasakan menggendong cucu dari anak-anakmu? Tapi kenapa? Kenapa ibu secepat ini ingin pulang
Sakit sekali rasanya ketika semuanya harus dibuat banyak pertanyaan yang tak sesuai dengan logika. Tetapi tetap saja,semuanya tak mudah untuk dilupakan. Kenanangan bersama ibu begitu banyak dan begitu berkesan. Bahkan aku tak sanggup untuk melupakannya satu persatu. Bahkan semenjak ibu pergi,kehidupan baru yang kujalani seakan tak memeliki arti. Banyak senyum kepalsuan yang ku tunjukan pada orang orang disekelilingku,bahkan pada dunia. Mereka slalu melihat keikhlasanku ditinggal ibu,tanpa mereka tau ketika ku sedang sendiri,betapa menjeritnya hati anakmu yang pernah kau jaga ini.
Bu......hatiku sakit untuk menceritakan semuanya,bahkan ketika menulis ini,banyak cairan dari mata yang menetes. Tetapi lebih sakit jika semuanya selalu dipendam. Aku tak tau harus membeberkan uneg unegku pada siapa. Mereka banyak yang tak peduli dengan kondisiku. Mereka juga banyak yang tak peduli tentang apa yang aku rasa. Kehidupanku berbeda drastis bu semenjak ditinggal ibu. Tak ada lagi tempat untuk ku cerita segalanya tentang permasalahanku diluar,permasalahanku tentang hubunganku dengannya,bahkan tentang kebahagiaanku. Biasanya ketika ku sedang bahagia,aku selalu mengadu pada ibu,tapi sekarang kebahagiaanku hanya bisa ku ungkapkan dengan air mata karena difikiranku selalu teringat pada ibu.
Bagaimana kabar ibu disurga sana? Apa ibu rindu kita? Apa ibu rindu aku? Apa ibu tau keadaanku sekarang semenjak ditinggal ibu? Ku yakin ibu pasti mengetahui.
Maafkan aku bu yang belum bisa menjadi wanita tegar seperti ibu. Maafin aku yang masih selalu meneteskan titik air mata untuk ibu. Aku tau sebenarnya disana ibu melarangku untuk menangis, tapi hati ini tak kan pernah kuat untuk menahan bendungan air mata yang segera meluncur ke alas pipi. Air mata yang jernih ini hanya untuk ibu. Untuk sosok ibu yang luar biasa.
Bu.....apa ibu tau? Sekarang ini aku benci sendirian didalam satu dimensi. Aku benci menyendiri,aku benci sepi. Aku berbeda dengan dulu yang sangat hoby menyendiri. Kenapa? Karena kehidupanku serasa lebur tanpa seorang ibu,ingatanku semakin tak karuan. Tapi itu yang sekarang harus kujalani bu. Semenjak ibu pergi,aku lebih terbiasa sendiri. Dirumah sendiri,tidur sendiri,pergi sendiri. Tak ada lagi yang bisa memberikan keramaian untukku kecuali pria gagah itu. Tapi saat pria itu sedang menjalankan tugasnya,sepi itu datang lagi,ingatanku pekat lagi tentang ibu,air mataku deras lagi,kondisiku lebur lagi.