Minggu, 21 Januari 2018

Hatiku bukan baja

Berjalan langkah demi langkah
Mengiringi waktu yang terus berputar
Dengan tangan yang saling menggenggam
Menepis segala kerikil yang melejit

Percuma,
apakah semua perjalanan ini harus ku katakan dengan percuma?
bahkan bagiku semuanya sia-sia.

29 bulan berjalan bersama dan saling menggenggam,
Pernah.
Kita pernah tertawa bersama, pernah menangis bersama, pernah menata renca rencana kedepannya bersama, bahkan kita pernah menguatkan hati untuk tetap tinggal dan saling menguatkan.
nyatanya itu hanya sebuah obsesi yang seakarang ku anggap sudah tidak ada artinya lagi.

Setelah perpisahan kita selama 2 bulan terakhir ini nyatanya sudah tidak bisa lagi dijadikan untuk saling menguatkan. Hati ini sudah terlalu rapuh untuk memaafkannya lagi dan lagi. 

Cukup,kukatakan sekali lagi.
Aku tidak bisa memafkannya untuk kesekian kalinya.
Karena sudah terlalu dalam luka yang diberikan
Sebab, hatiku bukan baja.

Rabu, 19 Oktober 2016

Ibu

Beberapa kali ku mencoba memberanikan diri untuk menulis lagi,bercerita lagi. Tapi berat rasanya untuk membeberkan bait kata yang disetiap baitnya selalu membuat hati ini perih dan dengan mudahnya cairan mata ini menetes.

Entah......
Entah apa ini waktu yang tepat untuk aku menulis lagi? Menulis kisah yang berbeda. Apa aku siap untuk menahan rasa sakit yang sakitnya melebihi dari apapun? apa aku sanggup menceritakan kehidupan baruku tanpa seorang ibu?

Ya,inilah kenyataan yang pahit yang harus ku terima meski sakit dan meski selalu menjerit disetiap harinya. Kenyataan yang benar-benar sulit dipercaya,bahwa begitu cepat aku harus melampaui kehidupan baru tanpa seorang ibu diusia mudaku ini. Siapa sangka? Ulang tahun diumurku yang ke 19 adalah umur terakhir untuk ibuku. Lalu bagaimana nantinya ketika aku beranjak keusia berikutnya?bagaimana nanti ketika aku wisuda dan memakai toga?bagaimana nanti ketika aku duduk dipelaminan bersama lelaki gagah itu layaknya ratu dan raja? Apa ibu tidak ingin menemaniku saat momment yang berkesan itu? Apa ibu tidak ingin menemaniku sampai aku sukses dan mempunyai cucu untuk ibu? Kenapa ibu pergi cepat sekali. Aku belum membahagiakan ibu kan? Aku belum membuat ibu merasakan menggendong cucu dari anak-anakmu? Tapi kenapa? Kenapa ibu secepat ini ingin pulang

Sakit sekali rasanya ketika semuanya harus dibuat banyak pertanyaan yang tak sesuai dengan logika. Tetapi tetap saja,semuanya tak mudah untuk dilupakan. Kenanangan bersama ibu begitu banyak dan begitu berkesan. Bahkan aku tak sanggup untuk melupakannya satu persatu. Bahkan semenjak ibu pergi,kehidupan baru yang kujalani seakan tak memeliki arti. Banyak senyum kepalsuan yang ku tunjukan pada orang orang disekelilingku,bahkan pada dunia. Mereka slalu melihat keikhlasanku ditinggal ibu,tanpa mereka tau ketika ku sedang sendiri,betapa menjeritnya hati anakmu yang pernah kau jaga ini.

Bu......hatiku sakit untuk menceritakan semuanya,bahkan ketika menulis ini,banyak cairan dari mata yang menetes. Tetapi lebih sakit jika semuanya selalu dipendam. Aku tak tau harus membeberkan uneg unegku pada siapa. Mereka banyak yang tak peduli dengan kondisiku. Mereka juga banyak yang tak peduli tentang apa yang aku rasa. Kehidupanku berbeda drastis bu semenjak ditinggal ibu. Tak ada lagi tempat untuk ku cerita segalanya tentang permasalahanku diluar,permasalahanku tentang hubunganku dengannya,bahkan tentang kebahagiaanku.  Biasanya ketika ku sedang bahagia,aku selalu mengadu pada ibu,tapi sekarang kebahagiaanku hanya bisa ku ungkapkan dengan air mata karena difikiranku selalu teringat pada ibu.

Bagaimana kabar ibu disurga sana? Apa ibu rindu kita? Apa ibu rindu aku? Apa ibu tau keadaanku sekarang semenjak ditinggal ibu? Ku yakin ibu pasti mengetahui.
Maafkan aku bu yang belum bisa menjadi wanita tegar seperti ibu. Maafin aku yang masih selalu meneteskan titik air mata untuk ibu. Aku tau sebenarnya disana ibu melarangku untuk menangis, tapi hati ini tak kan pernah kuat untuk menahan bendungan air mata yang segera meluncur ke alas pipi. Air mata yang jernih ini hanya untuk ibu. Untuk sosok ibu yang luar biasa.

Bu.....apa ibu tau? Sekarang ini aku benci sendirian didalam satu dimensi. Aku benci menyendiri,aku benci sepi. Aku berbeda dengan dulu yang sangat hoby menyendiri. Kenapa? Karena kehidupanku serasa lebur tanpa seorang ibu,ingatanku semakin tak karuan. Tapi itu yang sekarang harus kujalani bu. Semenjak ibu pergi,aku lebih terbiasa sendiri. Dirumah sendiri,tidur sendiri,pergi sendiri. Tak ada lagi yang bisa memberikan keramaian untukku kecuali pria gagah itu. Tapi saat pria itu sedang menjalankan tugasnya,sepi itu datang lagi,ingatanku pekat lagi tentang ibu,air mataku deras lagi,kondisiku lebur lagi.

Selasa, 06 September 2016

Pesan Untukmu

Setelah hampir dua bulan aku berjalan sendiri dengan satu kaki. Awalnya memang sulit,tak seimbang,tak seperti biasanya. Bayangkan,ketika ku berjalan hanya pada satu kaki bahkan tanpa gandengan siapapun. Tetapi,waktu telah mengadili ku. Waktu telah menjawab bahwa ku mampu berjalan lebih jauh walaupun dengan harus keadaan pincang dan tanpa belas kasihan siapapun. Waktu membuktikan bahwa ku bisa melewati semuanya. Walaupun waktu belum bisa memberi keindahaan, tapi ku yakin kelak waktu akan menepati janji keindahan itu. Jika berbicara tentang waktu,aku sangat mencintai waktu. Waktu mengajariku banyak hal. Waktu membawaku keperubahan yang lebih baik. Dan waktu pula yang telah menunjukan arah rumahmu sebenarnya.

Sebenarnya aku bingung harus menulis apa disini. Hingga berkali-kali aku mengetik dan ku hapus lagi. Lagi dan lagi,begitu terus. Karena banyak sekali yang ingin ku beberkan disini,banyak yang kebendung hingga tak bisa diungkap dengan kata-kata. Kau harus tau,menulis kata supaya menjadi indah tak semudah kau menaruh luka. Kau bisa segampang membuat luka,tapi untuk membersihkannya sangat teramat sulit,apalagi jika ku harus membersihkannya sendirian.

Kau ingat kesalahanmu yang lalu? Kau ingat semua kebohongan yan telah kau perbuat kala itu? Apa aku harus membahasnya lagi? Sebenarnya ku tak ingin,sama sekali tak ingin mengingatnya lagi. Tapi selalu saja sepintas pikiran ini mengingatkan. Itu bukan hal yang seharusnya ku kenang,bahkan tentangmu seharusnya sudah ku lupakan. Tapi nyatanya sayangku lebih besar daripada benciku. Aku tidak bisa membencimu. Entah mengapa akupun tak tau. Itu sebabnya aku bisa menerima dengan senang hati ketika kau kembali menyapaku dan memperhatikanku lagi seperti dulu. 

Aneh memang,yang biasanya kita memperhatikan dengan kata sayang tetapi kini hanya dengan menyebut nama. Mungkin ini adalah proses yang telah dberikan waktu untuk aku dan kamu supaya menjadi kita lagi. Jalanin saja,meskipun ku akui,hati dan fikiranku selalu beradu argument tentangmu. Asal kau tau fikiranku tak menerima kau kembali,logika berkata kamu sudah keterlaluan. Tetapi ketulusan hati ini masih  ingin menunggu kau pulang. Hatiku selalu berkata kau adalah rumahku dan aku adalah rumahmu. Hati kecil ini selalu berbisik kita pasti bisa berubah untuk menuju lebih baik. Dan akhirnya hatiku membuka pintu lebar-lebar untuk kau masuk dan menetap.

Pesan untukmu:

Jika nanti kau sudah yakin bahwa aku adalah rumahmu,tolong jaga rumah ini baik-baik. Kita rapihkan bersama,kita bangun bersama agar kembali menjadi kokoh seperti dulu. Tolong,jangan menaruh luka lagi. Jangan membohongiku seperti waktu itu. Aku memang bukan wanita yang sempurna,bahkan jauh dari kata sempurna,tapi aku wanita yang bisa menerima kekuranganmu bahkan segala keburukanmu,sebab sayangku begitu tulus. Dan akupun akan berubah menjadi lebih baik untuk diriku sendiri dan untuk kita. Semoga kau juga akan begitu. Satu hal,aku tak ingin dikasihani olehmu. Karena dengan tanpa ibuku didunia,bukan berarti kau harus mengasihaniku. Jika nanti kau kembali karena kasihan,maaf aku harus pergi dari kehidupanmu. Karena kau harus tau,masih banyak sesorang diluar sana yang  tidak memiliki kedua orang tua dan harus mencari pangan sendiri. Banyak yang harus dikasihani dibanding kehidupanku. Aku masih harus bersyukur,karena aku masih memiliki satu orang tua dan aku masih memiliki keluarga yang teramat mencintaiku. Dan aku mohon padamu,aku sudah tak ingin bermain-main lagi,aku lelah. Aku tak ingin membuang-buang waktu untuk hal yang merugikan diriku sendiri. Jika kau benar mencintaiku,aku hanya ingin jaga kita. Akupun akan begitu. Tolong kita sama-sama saling membahagiakan seperti diawal kita menjalin hubungan. Lupakan segala luka,lupakan rasa kecewa. Kita pasti menang,karena aku mencintaimu,terlalu.


Sabtu, 20 Agustus 2016

Sutradara dan pemeran utama

Kau ingat?kau telah membuat cerita yang teramat indah bagimu. Seakan tujuanmu untuk membuatku merasa kehilangan telah berhasil. Ibarat kata kau adalah sutradara dan aku adalah pemeran utama yang disasarkan untuk patah hati. Sandiwara yang begitu hebat seakan membuatku buta.

Kau mengatur actingku. Ketika actingku buruk,kau tuntut aku untuk berubah dan beracting lebih dalam lagi agar cerita yang kau buat terlihat indah. Tanpa kau sadari,kau adalah sutrada yang termat buruk yang pernah kukenal. Kau hanya bisa bersandiwara,tanpa mengerti arti sebuah kenyataan.

Kau merangkai semuanya agar cerita yang kau tuju berhasil. Kau bohongi orang-orang yabg berada disekitarmu,kau suruh mereka beracting juga mengikuti aturanmu. Kau sangat berharap cerita yang telah kau rangkai untuk membuat pemeran utama mu patah hati akan berhasil.

Sampai pada akhirnya,sasaranmu pas. Aku telah patah hati. Aku telah kehilangan. Aku telah merindu. Dan aku merasa kesakitan disini. Lalu kau pergi sesuka hati setelah tujuanmu mencapai target. Dimana hatimu? Pemeran utama mu telah merintih kesakitan disini,namun tak ada pertanggung jawaban apapun. Ketika kau telah berlari kencang,aku masih terdiam disini. Aku menunggu untuk kau berbalik kearahku. Namun nyatanya,kau telah jauh hingga tak terlihat lagi.

Kau harus tau,ini adalah kehidupan nyata. Ini bukan sebuah film yang telah kau rangkai agar terlihat menakjubkan dihadapan mereka. Yang kau anggap pemeran utama ini,mempunyai hati. Hati yang pernah dijaga oleh dirinya sendiri agar tetap baik baik saja. Namun,kau telah meruntuhkannya lagi. Lagi dan lagi. Kau orang yang telah dipercayai,namun nyatanya lebih kejam dari orang yang tak pernah kupercayai sama sekali. Kau harus sadari sekali lagi,sandiwaramu tidak akan terlihat indah tanpa pemeran utama. Seharusnya kau berterimakasih padaku,karena aku telah beracting dengan baik hingga bisa tepat menjadi sasaranmu.

Setelah ini,aku akan melangkah bahkan berlari lebih kencang dari kakimu. Bukan untuk menujumu,itu aku sudah tak ingin. Tapi aku ingin mengejar langkah kakimu,bahkan lebih cepat,agar kau tau bahwa ku bisa menjadi sesorang yang lebih dari sutradara. Kau harus mengerti bahwa diatas langit masih ada langit. Berubahlah sutradaku.

Minggu, 14 Agustus 2016

Setelah sebulan berpisah

Disini harusku adukan lagi. Lagi lagi kuharus mengadukan semuanya disini. Ditempat yang menurutku paling aman untuk kamu mengetahui tentang perasaanku,tanpa kita harus adu mulut dan saling emosi.

Setelah satu bulan kita berpisah,apa kau pernah sedikit menengok hatiku? Hatiku yang awalnya rapuh sampai akhirnya kini bisa menjadi seperti baja. Kamu yang pernah kupertahankan sekuat hati,tapi selalu menyakiti. Tapi aku kesal,kenapa aku tidak bisa sedikit membencimu? Setelah yang kau lakukan selama ini,aku sama sekali tidak bisa melupakanmu apalagi membencimu. Entah Tuhan menciptakan hatiku seperti apa.

Apa kau ingat pengorbananku setelah kita berpisah? Ku seperti orang bodoh yang mempertahankan kita sendirian. Ku merasa seperti perempuan lemah yang rela disakiti lelaki yang sama sekali tidak pernah menengok hatiku lagi. Dan setelah yang kukorbankan semuanya untukmu,bisa bisanya kau masih memaki maki. Dimana letak akal sehatmu sayang? Sampai kau buta,bahwa disini ada perempuan yang begitu mencintaimu dengan ketulusan.

Dan akhirnya,semua terbongkar. Semua  bangkai yang kau simpan tercium baunya. Tuhan itu adil. Tuhan memihakku. Saat kau lebih memilih wanita lain dan mengabaikanku,Tuhan disini bersamaku dan merangkulku.

Kau begitu kejam saat itu,kau lebih peduli wanita lain dan keluarganya dibanding aku dan keluargaku yang dari dulu begitu tulusnya menyayangimu. Kau bodoh sayang,kau lelaki teramat bodoh. Ingin sekali ku memakimu dan memberimu tamparan supaya kau sadar akan kekeliruanmu yang begitu menjijikan.

Sudah puaskah? Dengan sandiwara dan kebohonganmu,apa kau sudah puas membuat hati ini mati? Mana tanggung jawabmu sayang? Mana tanggung jawabmu terhadapku dan keluargaku bahkan terhadap alm.ibuku? Mana sayang? Mana sosok lelaki yang kukenal dulu yang selalu tegas terhadap masalah yg dihadapinya? Ku ingin kau yang dulu. Tapi kini,kau berubah. Kau lebih memilih menyibukan diri mencari perhatian keluarga wanita itu dibanding menyelesaikan masalah denganku dan keluargaku.

Tapi,aku dan keluargaku tidak akan pernah membencimu. Kita akan selalu memaafkanmu. Tapi kumohon dan sangan berharap,ubahlah sifatmu menjadi lebih baik dan tambah baik. Sadar,jangan pernah kau siakan seseorang yang tulus demi yang hanya sekedar. Kuharap kau tidak menemui penyesalan didepan. Aku pergi sayang,jika kau ingin mampir kerumahku,silahkan. Akan kubuka pintu ini lebar-lebar untukmu masuk. Tapi maaf,rumahku kini bukan jadi rumah kita. Kita sudah tenggelam dan entah kapan kita akan bangkit lagi,itu semua tergantung pembuktianmu kedepannya.

Senin, 25 Juli 2016

Ungkapan yang tidak pernah didengar

Banyak penjelasan yang harus kujelaskan disini. Banyak ungkapan hati yang seharusnya ku ungkapkan disini. Karena disinilah tempat satu-satunya celotehan yang akan kamu dengar tentang diriku sepenuhnya tanpa kau harus merasa muak. Seandainya suatu saat nanti kamu mendatangi tempat persinggahanku ini,kamu akan tahu betapa rapuh nya aku sekarang tanpa seseorang yang dulunya selalu ada,selalu merangkul,selalu memantau,selalu peduli tetapi kini telah menjadi seseorang yang amat tega.

Kenapa kamu sekarang? Kenapa kamu berubah menjadi seseorang yang amat tega? Dimana kamu yang dulu? Dimana kamu yang dulu yang selalu menjadi pria penyayang?aku rindu. Aku rindu denganmu. Aku rindu segala tentangmu. Perhatianmu,pedulimu,kekonyolanmu,tingkahmu,aku rindu akan hal semua itu.
Sayang.......aku rindu kamu.

Malam ini aku menjadi sosok wanita yang amat rapuh. Banyak cobaan yang harus kuhadapi saat ini. Dan aku harus melewatinya tanpamu. Kau tau bukan keadaan dirumahku seperti apa? Tak ada yang merangkulku disini. Tak ada yang menenangkan ku lagi disini. Sedangkan kau amat tahu bahwa malaikatku sudah pergi untuk selamanya,tetapi kenapa kau harus ikut pergi juga? 

Sayang.....bukankah kamu pernah berjanji untuk tetap selalu tinggal meski badai semakin besar? Bukankah kamu pernah berjanji untuk menjaga ku dan menikahkanku kelak? Bukankah kau akan selalu menjadi air ketika aku sedang menjadi api? Lalu,dimana semua janji itu. Dimana semua omonganmu yang selalu membuatku yakin bahwa kau adalah pria yang dikirimkan Tuhan untukku. Bahkan dengan mudahnya kau melupakan janji-janji mu itu. Bukankah lelaki sejati yang selalu dipegang adalah omongan dan janjinya?

Kamu hanya tau aku yang meninggalkanmu. Tapi apa kamu tau betapa sakitnya aku memutuskan semua itu? Aku menyesal. Aku mendari kesalahanku saat itu. Tapi,kenap kau tidak memberikan uluran tanganmu lagi waktu itu? Bukankah kamu pernah berjanji akan menjadi air ketika aku sedang menjadi api?
Dimana semua janji-janjimu? Dimana semua tanggung jawabmu?

Aku selalu mengakui kesalahanku. Bahkan aku selalu berusaha untuk memperbaiki semuanya. Tapi segampang itukah kau mengatakan bahwa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Semudah itu kau berbicara bahwa kau sudah memiliki kekasih baru? Dimana perasaanmu? Dimana nalar mu? Aku mencintaimu tulus disini. Aku menunggumu pulang. Dan aku berusaha untuk menjadi seseorang yang kamu banggakan. Tetatpi,apa semua usahaku sudah tak ada arti lagi dimatamu? Apa nama ku sudah tak ada lagi dibenakmu? Apa tentangku sudah tak ada lagi dihatimu?

Coba kau ingat perlahan tentang kita. Tentang kita yang tidak sebentar. Setahun. Itu waktu yang mempunyai banyak cerita. Apa kamu bisa melupakannya dan membuangnya begitu saja? Tapi maaf,aku tak bisa sepertimu. Semua akan kusimpan rapih diingatanku bahkan janjimu akan selalu ku ingat.

Ingatkah disaat kau sedang berada dititik terlemah? Aku mencoba untuk menguatkanmu,aku coba untuk membangkitkanmu. Ingatkah disaat kau sedang dalam keadaan kesusahan? Aku tetap disini,aku dismpingmu,aku menenangkanmu. Ingatkah ketika kau sedang muak dengan dunia lalu kau memaki ku layaknya binatang? Aku diam,aku tidak membantah,dan aku masih ada untukmu. Apa aku banyak menuntutmu sayang?

Fikirkan sejenak. Aku menerimamu apa adanya kekuranganmu. Aku mencoba selalu mengerti keadaanmu. Meskipun kau bilang kita sama-sama egois,tapi aku pernah mencoba mengalah untukmu. Tolong ingat sebentar keindahan hubungan kita. Ingatlah sedikit kebaikanku. Aku tidak pernah meminta kau untuk menjadi seperti mereka yang selalu memberikan ku ini dan itu. Aku tidak pernah menuntutmu banyak sayang.

Kamu harus tau,aku disini menunggumu. Meski kau beberapa kali coba mematikan hatiku,aku tak kan jera. Aku akan tetap disini. Aku akan tetap menjaga sangkar ini yabg sudah terlihat kotor.

Cepat pulang sayang,aku menunggu di dalam sangkar ini sendirian. Dan aku sangat mengharpkan kau untuk pulang. Dan kita bersihkan bersama sangkar ini agar terlihat indah lagi. Jangan lama-lama perginya. Aku akan selalu menunggumu pulang.

Ingat......

Aku menunggumu pulang......

Kamis, 24 Maret 2016

Perubahan tawa menjadi luka

Mungkin memang benar hidup akan selalu ada perubahan. Kadang diatas kadang dibawah, kadang bahagia kadang terluka, kadang tertawa kadang menangis, kadang memberi kadang meminta.

Begitupun tentangmu...

Kau berubah tanpa kesadaranmu sendiri. Kau yang kukenal baik ternyata sama saja dengan yang lainnya. Sikapmu yang biasanya selalu mencoba memberiku bahagia dan memberiku tawa seketika berubah memberi sebuah luka. Luka yang teramat sakit.

Apa pantas cerita ini kubeberkan disini? Apa pantas aku mengungkapkan rasa sakit yang teramat sakit ini disini? Entah, aku sudah tak ada tempat untuk bersandar lagi. Tempat sandaranku kini udah pergi untuk selamanya. Lalu, dimana kamu yg seharusnya menjadi tempat pengganti sandaranku? Kini Kamu bukan orang yang dulu ku kenal. Kamu beda,kamu berubah. Bahkan kamu bukan lagi menjadi pengganti sandaranku.

Perubahanmu tak pernah ku ketahui bahkan tak pernah kamu sadari. Kau menyimpan rapih perubahanmu itu sehingga aku tak pernah tau,bahkan kamu. Semua kebohongan dan semua tipuan masih selalu tersimpan rapih di dalam hatimu yang busuk itu. Bahkan saat kau mengatakan,kau akan membuatu bahagia,ternyata itu adalah salah satu kebohongan besar yang telah kau rangkai.

Bukankah dulu kau selalu mengajariku banyak hal? Kau mengajariku akan artinya kesetiaan. Kau mengajariku akan sebuah kejujuran. Kau mengajariku akan artinya kedewasaan. Tapi apa? Apa itu semua pantas untuk aku banggakan lagi setelah semua bangkai itu mulai tercium baunya? Kamu sama saja dengan yang lainnya. Kebusukan yang kau lakukan selama ini sebenarnya membuatku muak setelah aku tau semuanya.

Hatimu itu terlalu tinggi,seharusnya aku berhenti disini. Kurcaci seperti ku tak pantas untuk menggapai hatimu. Seharusnya aku menyadari semua itu,maafkan aku yang selalu lupa diri siapa kamu dan siapa aku. Derajat kita jauh,aku bukan siapa siapa,sedangkan kamu? Dengan ketinggianmu,makanya dengan mudahnya kau memberi luka dihati yg selama ini kujaga.
Asal kau tau,hati ini selalu ku pegang erat. Tak kan mudah dan tak kan pernah mudah aku melepaskannya. Bahkan tak kan pernah sanggup melukai pasangan hati ini. Tapi ternyata sebaliknya. Kau sangat sanggup melukai pasangan hatimu sendiri.

Tetapi tak apa,semua akan ku jadikan pelajaran. Semua akan kujadikan pengalaman. Walaupun rasa sakit ini masih tersimpan rapih dan bahkan sulit sekali untuk melupakan segala hal kesalahanmu. Tapi,aku percaya perubahmu akan berbalik menjadi yg lebih baik. Aku bertahan disini meskipun luka ini terlalu dalam,maafku terbuka untukumu. Karena aku mencintaimu dengan ketulusan