Sabtu, 20 Agustus 2016

Sutradara dan pemeran utama

Kau ingat?kau telah membuat cerita yang teramat indah bagimu. Seakan tujuanmu untuk membuatku merasa kehilangan telah berhasil. Ibarat kata kau adalah sutradara dan aku adalah pemeran utama yang disasarkan untuk patah hati. Sandiwara yang begitu hebat seakan membuatku buta.

Kau mengatur actingku. Ketika actingku buruk,kau tuntut aku untuk berubah dan beracting lebih dalam lagi agar cerita yang kau buat terlihat indah. Tanpa kau sadari,kau adalah sutrada yang termat buruk yang pernah kukenal. Kau hanya bisa bersandiwara,tanpa mengerti arti sebuah kenyataan.

Kau merangkai semuanya agar cerita yang kau tuju berhasil. Kau bohongi orang-orang yabg berada disekitarmu,kau suruh mereka beracting juga mengikuti aturanmu. Kau sangat berharap cerita yang telah kau rangkai untuk membuat pemeran utama mu patah hati akan berhasil.

Sampai pada akhirnya,sasaranmu pas. Aku telah patah hati. Aku telah kehilangan. Aku telah merindu. Dan aku merasa kesakitan disini. Lalu kau pergi sesuka hati setelah tujuanmu mencapai target. Dimana hatimu? Pemeran utama mu telah merintih kesakitan disini,namun tak ada pertanggung jawaban apapun. Ketika kau telah berlari kencang,aku masih terdiam disini. Aku menunggu untuk kau berbalik kearahku. Namun nyatanya,kau telah jauh hingga tak terlihat lagi.

Kau harus tau,ini adalah kehidupan nyata. Ini bukan sebuah film yang telah kau rangkai agar terlihat menakjubkan dihadapan mereka. Yang kau anggap pemeran utama ini,mempunyai hati. Hati yang pernah dijaga oleh dirinya sendiri agar tetap baik baik saja. Namun,kau telah meruntuhkannya lagi. Lagi dan lagi. Kau orang yang telah dipercayai,namun nyatanya lebih kejam dari orang yang tak pernah kupercayai sama sekali. Kau harus sadari sekali lagi,sandiwaramu tidak akan terlihat indah tanpa pemeran utama. Seharusnya kau berterimakasih padaku,karena aku telah beracting dengan baik hingga bisa tepat menjadi sasaranmu.

Setelah ini,aku akan melangkah bahkan berlari lebih kencang dari kakimu. Bukan untuk menujumu,itu aku sudah tak ingin. Tapi aku ingin mengejar langkah kakimu,bahkan lebih cepat,agar kau tau bahwa ku bisa menjadi sesorang yang lebih dari sutradara. Kau harus mengerti bahwa diatas langit masih ada langit. Berubahlah sutradaku.

Minggu, 14 Agustus 2016

Setelah sebulan berpisah

Disini harusku adukan lagi. Lagi lagi kuharus mengadukan semuanya disini. Ditempat yang menurutku paling aman untuk kamu mengetahui tentang perasaanku,tanpa kita harus adu mulut dan saling emosi.

Setelah satu bulan kita berpisah,apa kau pernah sedikit menengok hatiku? Hatiku yang awalnya rapuh sampai akhirnya kini bisa menjadi seperti baja. Kamu yang pernah kupertahankan sekuat hati,tapi selalu menyakiti. Tapi aku kesal,kenapa aku tidak bisa sedikit membencimu? Setelah yang kau lakukan selama ini,aku sama sekali tidak bisa melupakanmu apalagi membencimu. Entah Tuhan menciptakan hatiku seperti apa.

Apa kau ingat pengorbananku setelah kita berpisah? Ku seperti orang bodoh yang mempertahankan kita sendirian. Ku merasa seperti perempuan lemah yang rela disakiti lelaki yang sama sekali tidak pernah menengok hatiku lagi. Dan setelah yang kukorbankan semuanya untukmu,bisa bisanya kau masih memaki maki. Dimana letak akal sehatmu sayang? Sampai kau buta,bahwa disini ada perempuan yang begitu mencintaimu dengan ketulusan.

Dan akhirnya,semua terbongkar. Semua  bangkai yang kau simpan tercium baunya. Tuhan itu adil. Tuhan memihakku. Saat kau lebih memilih wanita lain dan mengabaikanku,Tuhan disini bersamaku dan merangkulku.

Kau begitu kejam saat itu,kau lebih peduli wanita lain dan keluarganya dibanding aku dan keluargaku yang dari dulu begitu tulusnya menyayangimu. Kau bodoh sayang,kau lelaki teramat bodoh. Ingin sekali ku memakimu dan memberimu tamparan supaya kau sadar akan kekeliruanmu yang begitu menjijikan.

Sudah puaskah? Dengan sandiwara dan kebohonganmu,apa kau sudah puas membuat hati ini mati? Mana tanggung jawabmu sayang? Mana tanggung jawabmu terhadapku dan keluargaku bahkan terhadap alm.ibuku? Mana sayang? Mana sosok lelaki yang kukenal dulu yang selalu tegas terhadap masalah yg dihadapinya? Ku ingin kau yang dulu. Tapi kini,kau berubah. Kau lebih memilih menyibukan diri mencari perhatian keluarga wanita itu dibanding menyelesaikan masalah denganku dan keluargaku.

Tapi,aku dan keluargaku tidak akan pernah membencimu. Kita akan selalu memaafkanmu. Tapi kumohon dan sangan berharap,ubahlah sifatmu menjadi lebih baik dan tambah baik. Sadar,jangan pernah kau siakan seseorang yang tulus demi yang hanya sekedar. Kuharap kau tidak menemui penyesalan didepan. Aku pergi sayang,jika kau ingin mampir kerumahku,silahkan. Akan kubuka pintu ini lebar-lebar untukmu masuk. Tapi maaf,rumahku kini bukan jadi rumah kita. Kita sudah tenggelam dan entah kapan kita akan bangkit lagi,itu semua tergantung pembuktianmu kedepannya.